Data Berbicara – Perang AS-Iran Picu Krisis Energi Terburuk Dunia

Fakta Membuktikan: Konflik AS-Iran Menyebabkan Krisis Energi Terparah Sejauh Ini

Krisis Pasokan Minyak Terbesar dalam Sejarah

Konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang disertai penutupan Selat Hormuz, menciptakan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data dari Badan Energi Internasional (IEA) dan Departemen Energi AS. Situasi ini menunjukkan penurunan produksi harian yang signifikan, mencapai lebih dari 12 juta barel minyak per hari.

Dalam laporan terbarunya, IEA menyebut krisis ini sebagai yang terburuk, terutama jika dikombinasikan dengan dampak lanjutan dari krisis gas Eropa akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. “Ini merupakan krisis energi terparah yang pernah terjadi,” tulis IEA dalam catatannya, yang dikutip pada Rabu (22/4/2026).

“Ini merupakan krisis energi terparah yang pernah terjadi,” tulis IEA dalam catatannya, yang dikutip pada Rabu (22/4/2026).

Krisis saat ini tidak hanya memengaruhi pasokan minyak mentah, tetapi juga menyentuh gas alam, bahan bakar olahan, dan pupuk. Hal ini mencerminkan kerentanan baru yang diakibatkan oleh meningkatnya permintaan global dan kompleksitas rantai perdagangan energi. Dibandingkan dengan guncangan energi masa lalu, konflik Iran kini menghantam berbagai sektor rantai pasokan, dari mentah hingga produk turunan.

Menurut Reuters, dalam 52 hari konflik, total kehilangan pasokan energi mencapai sekitar 624 juta barel. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah, bahkan jika perang segera berakhir, karena pemulihan pasokan membutuhkan waktu yang lama. Angka ini melebihi krisis sebelumnya, seperti embargo Arab 1973-1974 yang mengakibatkan kehilangan 4,5 juta barel per hari, atau Perang Teluk 1991 yang mencatatkan kehilangan 516 juta barel.

Salah satu dampak terbesar terjadi di sektor gas. Negara produsen utama seperti Qatar mengalami gangguan hampir 1/5 dari produksi LNG global. Gangguan ini memperburuk tekanan pasar energi dunia, yang kini lebih bergantung pada gas dibandingkan beberapa dekade lalu.

Krisis energi saat ini juga memengaruhi sektor hilir, dengan gangguan produksi bahan bakar di kilang-kilang Teluk yang menyebabkan kelangkaan bahan bakar jet dan diesel di berbagai wilayah. Berbeda dengan krisis sebelumnya, negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang biasanya memiliki cadangan besar, kini kesulitan menutupi kekurangan pasokan akibat gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.

Jurnalis energi Ian Seymour menyoroti penurunan produksi Iran sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah industri minyak. “Iran memproduksi sekitar 6 juta barel per hari pada akhir 1978, namun turun menjadi rata-rata 3,1 juta barel per hari pada 1979,” ujarnya. Dalam catatan sejarah, penurunan produksi selama Revolusi Iran 1978-1979 masih lebih besar dibandingkan dampak krisis saat ini.

Berdasarkan data Departemen Energi AS, penurunan produksi rata-rata mencapai 3,9 juta barel per hari antara 1978 hingga 1981, setara sekitar 4,27 miliar barel. Namun, krisis saat ini menunjukkan kehilangan pasokan yang lebih luas, mencakup berbagai bentuk energi dan menyebabkan tekanan yang lebih besar terutama di Asia dan Afrika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *