Meeting Results: Pemain Bhayangkara U-20 dan Dewa United U-20 Maaf-maafan, Jadi Teman

Pemain Bhayangkara U-20 dan Dewa United U-20 Berdamai Setelah Ricuh di Lapangan

Setelah terjadi peristiwa ricuh di lapangan sepak bola selama akhir pekan lalu, pemain Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20 kini telah berdamai dan menjalin hubungan yang lebih harmonis. Situasi tersebut sempat memicu tawuran, namun kini berubah menjadi momen perbaikan hubungan antar-pemain.

Mediasi Berhasil Memperbaiki Hubungan

“Alhamdulillah hari ini mediasi sudah selesai. Kami sudah bersilaturahmi, sudah maaf-maafan. Anak-anak ini bukan anak-anak kita, tapi anak-anak kami,” ucap Firman Utina, Direktur Akademi Dewa United Development.

Firman Utina mengatakan dua tim tersebut telah bertemu dalam suasana yang lebih santai dibandingkan tiga hari sebelumnya. Ia menegaskan bahwa rasa persahabatan antar-pemain sudah kembali terjalin, bahkan ada yang berasal dari keluarga sama.

“Jadi, anak-anak kami itu adalah anak-anak yang kami harus lindungi sama-sama. Tadi juga Berto sudah minta maaf kepada Raka, bahkan teman-teman yang lain atau pemain-pemain yang lain, kami rasa ini sudah clear,” katanya.

Firman menyebutkan bahwa pemain Bhayangkara yang terlibat dalam kericuhan, Fadly Alberto Hengga, telah meminta maaf kepada pemain Dewa United yang ditendangnya, Raka Nurkholis. Ia mengapresiasi sikap pemain yang cepat merangkul kesalahan dan kembali menyatukan hati.

Pelajaran untuk Masa Depan

“Dan dengan Raka serta teman-teman yang lain juga, bukan hanya karena mereka yang viral. Tim ada 11 pemain, bahkan lebih dari 22, yang perlu maaf-maafan. Mereka saat ini sudah jadi teman lagi, saling berbicara dan mengenal,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Firman Utina menekankan bahwa tujuan utama adalah memperbaiki citra sepak bola di Elite Pro Academy. Ia juga mengingatkan para pemain agar tetap menjaga sikap baik di lapangan, karena menjadi pemain tim nasional atau klub besar bukan hal mudah.

“Karena menjadi pemain tim nasional dan klub-klub besar itu tidak gampang. Sedangkan orang lain di luar sana berburu untuk bermain di tim besar Liga Indonesia,” tukas Firman.

Firman berharap para pemain bisa memanfaatkan kesempatan ini secara bijak, menghindari perbuatan yang memicu konflik. “Akhirnya situasi jadi cair, mereka bermaaf-maafan. Kami ingin tetap lanjut di liga ini dan memperbaiki citra sepak bola di Elite Pro Academy,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *