Key Discussion: BI Proyeksi Ekonomi RI 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen, Ini Penyokongnya

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen, Ini Penyokongnya

Perspektif Ekonomi Global dan Kebijakan Domestik

Dalam suasana global yang mengalami perlambatan, Bank Indonesia (BI) masih optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Proyeksi ini menyebutkan bahwa laju pertumbuhan bisa mencapai rentang 4,9 hingga 5,7 persen, tergantung pada berbagai faktor pendukung. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa proyeksi tersebut didasari oleh kekuatan permintaan dalam negeri dan sinergi antara kebijakan pemerintah serta bank sentral.

Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi global yang kian memburuk tidak mengurangi momentum perekonomian Indonesia. Beberapa indikator menunjukkan adanya peningkatan pada triwulan pertama tahun ini. Konsumsi rumah tangga menjadi pilar utama, didukung oleh kondisi pendapatan yang stabil dan keyakinan masyarakat terhadap perekonomian. Momentum Ramadan dan Idulfitri juga turut berkontribusi dalam meningkatkan permintaan.

Di sisi lain, pengeluaran pemerintah menjadi faktor penambah aktivitas ekonomi. Perry menyebutkan bahwa kenaikan belanja pemerintah, khususnya untuk penyaluran tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, serta transfer ke daerah, memberikan dampak positif. [Gambas:Youtube]

“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dalam kisaran 4,9 persen sampai 5,7 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/4).

Dari aspek investasi, Perry menjelaskan bahwa realisasi penanaman modal tetap kuat, terutama pada proyek-proyek prioritas pemerintah. Proyek ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga memperkuat permintaan domestik. Sementara itu, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan turun menjadi 3 persen dari 3,1 persen sebelumnya. Inflasi global juga diperkirakan naik ke 4,2 persen, dari 4,1 persen.

Kenaikan inflasi global diperkirakan menyempitkan ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter. Perry menambahkan bahwa penurunan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat kemungkinan besar akan bertahan hingga 2026. Meski demikian, kinerja domestik tetap menjadi penyeimbang utama dalam menghadapi tekanan eksternal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *