Special Plan: Pentagon Pecat Menteri Angkatan Laut AS saat Kalut Perang Lawan Iran
Pentagon Pecat Menteri Angkatan Laut AS di Tengah Ketegangan Perang dengan Iran
Pemecatan John Phelan, Menteri Angkatan Laut AS, dilakukan Pentagon saat konflik dengan Iran masih berlangsung. Sumber yang mengakses informasi ini mengatakan keputusan itu bagian dari perombakan kepemimpinan baru di kementerian pertahanan. Pemecatan terjadi hanya beberapa pekan setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggantikan jenderal tertinggi Angkatan Darat AS.
“Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menterinya, kami mengucapkan terima kasih kepada John Phelan atas jasa-jasanya,” kata Sean Parnell, juru bicara Pentagon, Rabu (24/4) waktu setempat. “Kami berdoa semoga langkahnya ke depan berjalan lancar.”
Parnell menambahkan bahwa posisi sementara akan diisi oleh Hung Cao, Wakil Menteri Angkatan Laut yang juga menjadi pejabat sipil kedua di lembaga tersebut. Pemecatan ini memperkuat ketidakstabilan dalam struktur kepemimpinan Pentagon, setelah sebelumnya ada penggantian terhadap Ketua Kepala Staf Gabungan dan kepala operasi angkatan laut.
Pada 2 April, Hegseth juga mengakhiri jabatan Randy George, Kepala Staf Angkatan Darat AS, tanpa menyebut alasan. Dua pejabat pemerintah menyatakan keputusan tersebut dipicu oleh konflik antara Hegseth dan Daniel Driscoll, Menteri Angkatan Darat. Tragedi ini menambah dinamika di lapisan kepemimpinan militer AS.
Saat ini, AS mengandalkan angkatan laut untuk menjalankan blokade terhadap Iran, sebagai bagian dari strategi menekan Teheran agar terbuka dalam perundingan. Presiden Donald Trump berharap langkah ini mendorong Teheran untuk mencapai kesepakatan. Namun, situasi terus memanas karena Teheran belum siap menghadiri putaran kedua negosiasi di Islamabad, Pakistan.
“Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump merupakan cara untuk menutupi rasa malu, karena AS sudah mengirim wakil presiden ke Pakistan, sementara Iran belum mempersiapkan langkah serupa,” ujar Barbara Slavin, ahli kebijakan luar negeri AS, kepada Al Jazeera.
Slavin menekankan bahwa Trump kini “jelas berada dalam posisi serba salah.” Ia mengkritik perang yang tidak berjalan sesuai harapan, dan mengatakan Iran sudah menemukan daya tawar baru melalui kendali atas Selat Hormuz. Menurutnya, AS seharusnya “melepaskan tuntutan maksimalisnya” dan menawarkan isyarat bahwa Washington serius mencari solusi.
Trump sendiri memperpanjang gencatan senjata yang seharusnya berakhir pada Rabu (22/4), dengan alasan memberi Iran waktu lebih banyak untuk menyusun proposal perundingan. Namun, beberapa jam sebelum pengumuman itu, ia tetap mengeluarkan ancaman serangan terhadap Iran.