Kemenperin upayakan industri mamin pacu inovasi kemasan berkelanjutan

Kemenperin Berupaya Mendorong Inovasi Kemasan Berkelanjutan dalam Industri Makanan dan Minuman

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang berusaha meningkatkan kreativitas di sektor industri makanan dan minuman (mamin) guna menghadapi risiko gangguan pasokan bahan baku plastik yang dipicu oleh perubahan dinamika global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa sektor agro nasional, khususnya mamin, masih mampu mempertahankan kelangsungan produksi meskipun terjadi fluktuasi harga bahan plastik.

Menperin menyoroti dampak dinamika geopolitik internasional, seperti ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu rantai pasok bahan baku kemasan. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bisa menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan industri kemasan dalam negeri yang ramah lingkungan, kompetitif, dan berdaya saing.

“Industri makanan dan minuman membutuhkan banyak bahan plastik untuk kebutuhan kemasan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sekarang justru memacu inovasi alternatif, seperti kemasan yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Menperin.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa produsen kemasan mulai mengadopsi bahan alternatif seperti kertas, kaca, logam, serta plastik daur ulang seperti rPET. Menurutnya, industri pulp dan kertas nasional memiliki dasar kuat untuk mendukung transformasi kemasan.

Kemenperin menyebutkan bahwa pada 2025, sektor ini didukung oleh 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Ekspor industri ini mencapai 8,2 miliar dolar AS, sekaligus menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.

“Kemasan berbasis kertas memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama di bidang ritel, e-commerce, logistik, dan industri mamin. Saat ini, kita juga fokus pada pengembangan kemasan aseptik yang meminimalkan ketergantungan pada rantai pasok dingin. Inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating, dan active paper packaging perlu didukung melalui penelitian dan investasi,” tambah Putu.

Di samping kemasan dari kertas, Kemenperin juga mendorong pengembangan bioplastik berbahan baku alami, seperti ubi kayu dan rumput laut. Sejumlah produsen dalam negeri telah mulai memproduksi kemasan ramah lingkungan berbasis pati singkong atau seaweed-based packaging.

“Indonesia berpotensi besar menjadi pengembang industri bioplastik karena merupakan produsen utama ubi kayu dan rumput laut global. Berdasarkan data SIINas, kapasitas bioplastik berbahan baku ubi kayu mencapai 8 ribu ton per tahun, sedangkan dari rumput laut sebesar 28 ton per tahun,” papar Putu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *