Key Discussion: Jusuf Kalla dan PGI tekankan peran agama sebagai agen perdamaian
Jusuf Kalla dan PGI: Agama Harus Jadi Agen Perdamaian
Kamis malam, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Jacky Manuputty menggarisbawahi pentingnya menjaga peran agama sebagai alat pemeliharaan damai setelah bertemu dengan Jusuf Kalla di kediamannya di Jakarta Selatan. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka merespons kontroversi ceramah yang dibawakan oleh mantan wakil presiden tersebut di Universitas Gadjah Mada (UGM), yang sempat menjadi viral setelah dipotong oleh pihak tertentu.
Jacky menyampaikan bahwa pemahaman menyeluruh terhadap video ceramah selama 43 menit dapat mengungkap konteks berbeda dibandingkan potongan yang beredar. Menurutnya, pemotongan tersebut telah mengaburkan esensi pesan yang ingin disampaikan. “Bila kita mendengarkan secara utuh, bisa memahami maksud ceramahnya. Ada bagian yang mungkin dipelesetkan atau tidak tepat, tapi tidak mengubah makna utama,” tuturnya dalam pernyataan resmi.
“Agama harus kembali ditempatkan dalam panggilan mulianya sebagai penyebab konflik, bukan alat membenarkan kekerasan,” kata Jacky.
Dalam diskusi tersebut, Jacky juga mengingatkan tentang dampak konflik berbasis agama, seperti yang terjadi di Maluku. Pengalaman pribadinya dalam menghadapi perang saudara di Ambon dan Poso membuatnya menyadari betapa berbahayanya agama digunakan untuk memicu perpecahan. Ia menekankan bahwa agama seharusnya menjadi jembatan antarumat beragama, bukan pengisi celah kekerasan.
Sejumlah tokoh lain seperti Din Syamsuddin, yang terlibat dalam proses perdamaian konflik melalui Perjanjian Malino, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Jacky menyoroti perlunya memperkuat dialog lintas agama dan kebangsaan, mulai dari tingkat pemimpin hingga masyarakat umum. “Biasakan bertemu langsung, berdialog, dan klarifikasi. Jangan mudah terhasut oleh isu yang bisa memecah belah,” imbuhnya.
Menurut Jacky, konflik tidak boleh dimanfaatkan sebagai alasan untuk melibatkan agama sebagai penguat tindakan kekerasan. “Tidak mungkin manusia berkonflik lalu meminta Tuhan terlibat di dalamnya. Itu bertentangan dengan nilai-nilai agama yang luhur,” ujarnya. Pertemuan yang berlangsung tertutup dan hangat berharap mempererat kesatuan bangsa di tengah perubahan dinamika sosial.