Key Discussion: Pentagon Ungkap Fakta Pahit, Jangan Harap Petaka Hormuz Cepat Berakhir

Pentagon Ungkap Fakta Pahit, Jangan Harap Petaka Hormuz Cepat Berakhir

Ketegangan di selat yang menjadi tulang punggung perdagangan energi global semakin menggelitik pasar internasional. Dalam laporan terbaru, Pentagon mengungkap bahwa pembersihan ranjau dari Selat Hormuz mungkin membutuhkan waktu hingga enam bulan, meski perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berakhir. Penilaian ini diumumkan dalam sebuah pertemuan tertutup dengan anggota Komite Layanan Angkatan Bersenjata Kongres, seperti yang dilaporkan oleh Washington Post dan AFP.

Menurut sumber, Iran diduga menanam sekitar 20 hingga lebih ranjau di wilayah Selat Hormuz dan sekitarnya. Beberapa dari ranjau tersebut menggunakan teknologi GPS, memungkinkan mereka mengapung dan dikendalikan dari jarak jauh, sehingga lebih sulit dideteksi. Meski demikian, juru bicara Pentagon Sean Parnell membantah laporan tersebut, menyebut informasi yang beredar sebagai “tidak akurat.”

Ketua Parlemen Iran juga menegaskan bahwa negaranya tidak akan membuka kembali selat tersebut selama blokade angkatan laut AS masih berlangsung.

Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz. Namun, selama masa gencatan senjata yang belum stabil, jalur tersebut tetap terancam, terutama karena adanya blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Penutupan ini telah mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu ekonomi global.

Korps Garda Revolusi Iran sebelumnya mengingatkan adanya “zona berbahaya” seluas sekitar 1.400 kilometer persegi. Meski Angkatan Laut AS menyatakan telah mengirim kapal untuk mulai membersihkan ranjau, klaim ini langsung ditolak oleh pihak Iran, yang bahkan mengancam kapal militer yang berusaha melintas.

Ketakutan pelaku pelayaran global juga meningkat. Seorang juru bicara dari perusahaan transportasi Jerman Hapag-Lloyd mengingatkan bahwa kejelasan mengenai rute aman sangat dibutuhkan, mengingat ancaman ranjau masih tinggi. Bahkan saat Selat Hormuz sempat dibuka kembali pada awal gencatan senjata bulan ini, hanya sejumlah kecil kapal yang berani melintasi, sambil menghadapi risiko serangan atau keberadaan ranjau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *