Main Agenda: PTPN Bocorkan Bakal Bangun Hilirisasi Kelapa di Pulaiu Seram

PTPN Bocorkan Bakal Bangun Hilirisasi Kelapa di Pulaiu Seram

Upaya Pemerintah Meningkatkan Nilai Tambah Kelapa

Para pejabat pemerintah menegaskan komitmen kuat dalam mengembangkan hilirisasi kelapa sebagai komoditas utama Indonesia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai ekonomi dari buah tropis ini. Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), Teddy Yunirman Danas, menjelaskan bahwa potensi kelapa sangat besar, tetapi sebelumnya Indonesia gagal memanfaatkannya secara optimal karena minimnya pengolahan lokal.

Kelapa Dikumpulkan Lalu Diekspor dengan Harga Rendah

Menurut Teddy, kelapa umumnya dikumpulkan oleh pengepul dari masyarakat, lalu dijual ke luar negeri dengan harga murah. Setelah itu, produknya diolah di luar negeri dan kembali ke Indonesia dengan nilai yang jauh lebih tinggi. “Buah kelapa dibawa ke Tiongkok, kemudian diubah menjadi produk seperti minuman, makanan, dan susu kelapa yang bernilai tinggi. Saat dijual ke luar, harganya hanya Rp5.000-Rp7.000, tapi kembali ke sini bisa mencapai Rp30-Rp50 ribu,” kata Teddy saat berbicara dengan media di Menara Patra Jasa, Jakarta, pada Kamis (23/4/2026).

Investor Asing Ambil Bagian dalam Proyek Hilirisasi

Langkah hilirisasi kelapa juga menarik perhatian investor asing. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosam Roeslani, mengatakan bahwa total investasi asing untuk sektor ini mencapai US$100 juta atau setara Rp1,7 triliun. “Pabrik hilirisasi kelapa akan selesai di Morowali pada pertengahan tahun 2026, dengan kemampuan menyerap 500 juta butir kelapa setiap tahunnya,” jelas Rosan dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, yang dikutip pada hari yang sama.

PTPN I Bangun Pabrik Terintegrasi di Pulau Seram

Teddy menyebutkan bahwa PTPN I tengah membangun pabrik hilirisasi kelapa terpadu di Pulau Seram, Maluku. Proyek ini bertujuan menghasilkan berbagai produk olahan seperti bubuk kelapa, susu kelapa, dan air kelapa. “Produk-produk ini bisa dimanfaatkan untuk membuat nata de coco, yang merupakan nilai tambah yang signifikan,” tegasnya.

Kolaborasi dengan Investor Asing Tetap Terbuka

Teddy mengakui bahwa investasi asing dari pabrik hilirisasi kelapa tidak akan mengurangi peran perkebunan nasional. “FDI membangun pabrik tanpa memiliki kebun, sementara kita memiliki modal lahan untuk menanam kelapa,” ujarnya. Meski demikian, dia tetap menyambut baik peluang kerja sama dengan perusahaan asing. “Kemungkinan kolaborasi ada, tapi kita akan fokus terlebih dahulu pada penyerapan produk dari masyarakat,” pungkas Teddy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *