Special Plan: Harga Batu Bara Tebang 3 Hari, Eropa Lagi Cemas

Jakarta, Harga batu bara makin membara. Merujuk Refinitiv, harga batu bara kontrak Mei pada perdagangan Kamis (24/4/2026) ditutup di US$ 129,1 per ton atau melonjak 1,06%. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 7,3% dalam tiga hari terakhir.

Harga batu bara melonjak mengikuti harga minyak karena keduanya komoditas energi yang saling memengaruhi. Harga minyak brent kembali menembus US$ 105. Lonjakan harga jua dipicu oleh berkurangnya pasokan.

Pasokan batu bara via rel ke pelabuhan Caofeidian turun tajam dalam sehari. Kondisi ini disebabkan gangguan logistik rel dari tambang ke pelabuhan serta faktor cuaca atau jadwal pengiriman. Caofeidian adalah salah satu hub utama pengiriman batu bara China utara, sehingga data ini sering dipakai trader untuk membaca kondisi pasar thermal coal China.

Di Pelabuhan Huanghua, salah satu hub utama pengiriman batubara di China utara, menerima 610.000 ton batubara via jalur kereta api dalam 24 jam hingga pagi hari 22 April 2026. Huanghua adalah pelabuhan strategis untuk distribusi thermal coal dari wilayah tambang seperti Inner Mongolia dan Shanxi ke wilayah pesisir timur China. Karena itu, data arrivals sering dipakai trader untuk membaca arah pasar thermal coal China.

Data ini menunjukkan arus pasokan batu bara ke pelabuhan utama China mulai melambat, yang bisa menjadi sinyal pasar sedang wait and see menjelang musim panas dan fase restocking utilitas berikutnya. China juga memperingatkan bahwa El Niño moderat hingga kuat diperkirakan muncul mulai Mei 2026 dan berlanjut sampai akhir tahun. Dampak utamanya bisa sangat besar bagi sektor listrik nasional, terutama karena China sangat bergantung pada kombinasi PLTA, batu bara, tenaga surya, dan jaringan transmisi antarwilayah.

El Niño bisa mengacaukan monsun Asia Timur yakni China Selatan / Barat Daya berisiko banjir besar sementara wilayah lain berisiko kekeringan Keduanya sama-sama buruk untuk pembangkit hidro karena air yang terlalu sedikit bisa menurunkan produksi listrik turun sementara banjir memaksa bendungan harus mengurangi output atau shutdown sementara. Hal ini sangat penting karena provinsi seperti Sichuan dan Yunnan bergantung besar pada PLTA. China pernah mengalami krisis listrik 2022 saat heatwave dan kekeringan menghantam Sichuan.

Jika PLTA turun dan beban naik, maka China kemungkinan harus menaikkan pembangkit batu bara dan impor. Eropa Terancam Krisis Pasokan Gas Jika Selat Hormuz Tutup 1 Tahun Menurut laporan Montel, lonjakan harga energi yang saat ini dialami Eropa akibat perang Iran berpotensi berubah menjadi krisis pasokan nyata, bila Selat Hormuz tetap tertutup selama satu tahun ke depan. Lonjakan harga gas ini bisa berdampak positif ke harga batu bara karena ikut terdongkrak.

Saat ini Eropa masih berada dalam fase price shock (guncangan harga), artinya gas masih ada tetapi sangat mahal. Namun jika penutupan berlanjut lama, masalahnya berubah menjadi maka bukan lagi soal harga mahal, tapi apakah gas fisik masih tersedia untuk Eropa atau tidak. Selat Hormuz adalah jalur vital ekspor energi global.

Sekitar 20% LNG dunia biasanya melewati kawasan itu, termasuk gas dari Qatar yang selama ini menjadi pemasok penting bagi European Union. Cadangan gas Eropa rendah karena setelah musim dingin yang berat, storage gas Eropa hanya sekitar 31% penuh, level terendah untuk periode ini sejak 2022. Jika LNG Timur Tengah terganggu, pembeli Eropa harus berebut kargo dengan negara-negara Asia.

Selama beberapa minggu ini, Eropa masih bisa bertahan lewat storage dan impor dari Norwegia serta Amerika Serikat. Tetapi bila Hormuz benar-benar tertutup setahun penuh, pasar gas Eropa berpotensi masuk fase krisis pasokan nyata, mirip atau lebih berat dari krisis energi 2022.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *