Key Strategy: Trump Sebut Iran Mulai Terpecah, Teheran Beri Jawaban Menohok
Trump Sebut Iran Mulai Terpecah, Teheran Beri Jawaban Menohok
Kebuntuan Diplomatik dan Kondisi Politik Iran
Kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat memperburuk situasi diplomatik. Pemerintah Iran secara bersamaan menyangkal klaim Presiden Donald Trump yang menyebut adanya perpecahan di dalam kepemimpinan Teheran. Sejumlah pejabat tinggi, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negara mereka tetap bersatu meski menghadapi tekanan geopolitik dan konflik yang memanas.
Pernyataan tersebut didukung oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran melalui postingan resmi di media sosial. “Di Iran, tidak ada radikal atau moderat. Kita semua adalah orang Iran dan revolusioner,” tulis mereka seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (24/4/2026). “Dengan persatuan antara rakyat dan pemerintah serta ketaatan kepada Pemimpin Tertinggi, kami akan membuat agresor menyesali tindakannya,” tambah mereka.
“Iran bukan tanah perpecahan, tetapi benteng persatuan. Keragaman politik adalah bagian dari demokrasi kami, namun di saat genting, kami adalah satu tangan di bawah satu bendera,” ujar Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref dalam pernyataan terpisah.
Peran Koordinasi dan Kebuntuan Ekonomi
Koordinasi antara institusi militer dan pemerintah Iran berjalan stabil, menurut Abbas Araghchi. “Kegagalan operasi teroris Israel mencerminkan ketaatan Iran terhadap tujuan dan disiplin,” katanya. “Medan perang dan diplomasi adalah dua front yang sepenuhnya terkoordinasi,” imbuhnya.
Trump sebelumnya sering menyebut bahwa Iran terpecah, menuduh rakyat kesulitan mengetahui siapa pemimpin mereka. Ia menekankan konflik antara kelompok moderat dan garis keras di Teheran. Dalam media sosial, Trump menulis bahwa blokade AS sangat ketat dan kuat, sehingga kondisi akan semakin memburuk. “Waktu tidak berpihak pada mereka,” tulisnya. “Kesepakatan hanya akan dibuat jika menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya,” sambungnya.
Ketegangan Regional dan Kenaikan Harga Minyak
Ketegangan antara kedua negara memengaruhi dinamika global. Iran menyebut pembatalan pembicaraan diplomatik disebabkan oleh blokade pelabuhan mereka. Ketidakpastian geopolitik, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan tindakan penyumbatan laut AS, kembali meningkatkan harga minyak dunia.
Israel juga menunjukkan siap kembali terlibat dalam konflik. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militer mereka berada dalam kondisi siap bertahan atau menyerang, dengan target sudah ditentukan. “Kami akan memperbarui perang melawan Iran,” ujarnya.