Solution For: IHSG Terkapar Dihajar Kanan-Kiri, Ditutup Turun 3,38%!
IHSG Terkapar Dihajar Kanan-Kiri, Ditutup Turun 3,38%!
Pada Jumat (24/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, ditutup dengan pergerakan 3,38% atau 249,49 poin ke level 7.129,49. Selama hari tersebut, IHSG terus bergerak dalam area negatif, dengan beberapa momen singkat menyentuh zona hijau, mencapai rentang 7.115,97–7.383,4. Mayoritas saham, yaitu 701 dari total 701, mengalami penurunan, sementara 92 saham naik dan 166 saham lainnya stagnan.
Kondisi Pasar dan Dampak Eksternal
Volume perdagangan hari ini cukup tinggi, mencapai Rp24,3 triliun, melibatkan 44,8 miliar saham dalam 2,66 juta transaksi. Meski demikian, kinerja IHSG terus tertekan akibat tekanan jual asing yang signifikan. Total transaksi asing mencapai Rp5 triliun, sementara pembelian asing hanya sebesar Rp3 triliun, sehingga menghasilkan penjualan bersih Rp2 triliun.
Indeks tersebut juga terpengaruh oleh aksi jual besar di sektor perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak ditekan, dengan net sell mencapai Rp1,3 triliun. Investor asing juga melakukan penjualan pada PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar Rp287,5 miliar dan PT Bank Mandiri (BMRI) sekitar Rp192,4 miliar. Selain itu, saham-saham seperti PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Medco Energi Internasional (MEDC), PT Energi Mega Persada (ENRG), serta PT Petrosea (PTRO) dan PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO) juga mengalami tekanan.
Faktor-Faktor Pelemahan Pasar
Analisis teknikal menunjukkan bahwa IHSG masih berada dalam tren penurunan setelah melewati level support psikologis 7.500 dan support historis 7.300. Tekanan ini telah terlihat sejak akhir bulan Maret, ketika grafik bulanan menunjukkan zona bearish. Meski grafik harian mulai menunjukkan tanda-tanda pembentukan pivot, pergerakan tersebut belum didukung oleh volume transaksi yang memadai.
Perlemahan IHSG bukan hanya akibat tekanan sementara, tetapi juga puncak dari sentimen negatif yang terakumulasi dalam beberapa waktu. Kombinasi tantangan makroekonomi, aliran modal asing yang tidak stabil, serta indikator teknikal yang kurang menguntungkan memperparah situasi. Beberapa lembaga seperti Fitch Ratings dan Moody’s, serta bank besar AS seperti JP Morgan dan Goldman Sachs, menilai Indonesia dalam posisi “underweight,” yang memicu kehati-hatian investor institusi.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa IHSG masih berada dalam tren penurunan setelah melewati level support psikologis 7.500 dan support historis 7.300.
Nilai tukar Rupiah yang terus melemah juga berkontribusi pada pelemahan pasar ekuitas. Rupiah saat ini mencapai Rp17.300 per dolar AS, turun 3,66% dibandingkan awal tahun 2026 yang masih berada di kisaran Rp16.670. Depresiasi mata uang domestik ini menimbulkan risiko kerugian ganda bagi investor asing, baik dari penurunan harga saham maupun selisih kurs saat portofolio dikonversi kembali.
Geopolitik dan Kinerja Global
Sentimen eksternal yang dominan saat ini adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perang yang dimulai dari penyerangan tokoh penting Iran pada 28 Februari 2026 terus berkembang, memengaruhi capital war dunia dan meningkatkan premi risiko operasional usaha sehari-hari. Meski ada upaya memperpanjang damai, status gencatan senjata dinilai rapuh, terutama dalam perebutan pengendalian Selat Hormuz. Amerika Serikat dikabarkan telah menguasai jalur maritim tersebut selama masa gencatan senjata.