New Policy: China akan luncurkan 200.000 satelit untuk saingi Starlink

China akan luncurkan 200.000 satelit untuk saingi Starlink

Beijing berencana mengirimkan sekitar 200.000 satelit ke luar angkasa sebagai bagian dari upaya menyaingi layanan internet berbasis satelit Starlink. Rencana ini telah diajukan ke Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), lembaga khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengatur teknologi informasi dan komunikasi. ITU mengizinkan penggunaan pita frekuensi radio serta orbit satelit bagi Tiongkok, menegaskan bahwa negara tersebut, sebagai kekuatan ekonomi Asia, berupaya membangun sistem serupa dengan layanan Starlink.

Starlink dan Penggunaan di Ukraina

Layanan Starlink, yang dikelola oleh SpaceX, perusahaan Amerika Serikat yang dipimpin Elon Musk, menghubungkan perangkat pengguna portabel dengan satelit di orbit rendah. Ini memungkinkan akses internet yang lebih cepat dibandingkan layanan satelit lainnya. Starlink telah dimanfaatkan oleh Ukraina sebagai alat komunikasi selama konflik dengan Rusia. Seorang pejabat dari otoritas angkasa Tiongkok mengatakan kepada Kyodo News bahwa frekuensi radio dan orbit satelit bersifat terbatas, sehingga permohonan penggunaan harus segera diajukan.

Pemohonan dan Kuota Orbital

Menurut data ITU, institusi riset Tiongkok di Provinsi Hebei telah mengajukan izin untuk menempatkan 193.400 satelit ke orbit pada Desember tahun lalu. Tahun sebelumnya, beberapa perusahaan komunikasi di Beijing dan Shanghai juga mengajukan hak untuk meluncurkan setidaknya 10.000 satelit. ITU mengalokasikan orbit berdasarkan siapa yang lebih dulu mendaftar, dan Starlink sendiri menggunakan sekitar 10.000 satelit.

Strategi dan Tujuan Teknis

Perencanaan ini sejalan dengan rencana pembangunan ekonomi lima tahun Tiongkok hingga 2030, yang mendorong pengembangan jaringan komunikasi satelit. Riset Beijing terhadap cara kerja Starlink di Taiwan dan wilayah sekitarnya mencerminkan kecemasan terhadap kemampuan sistem AS dalam mempertahankan wilayah tersebut. Tiongkok mengakui Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan terus berupaya menguasai daerah itu, termasuk dengan pengerahan militer jika diperlukan.

“Rencana Tiongkok untuk meluncurkan 200.000 satelit tersebut tidak realistis,” kata Profesor Kazuto Suzuki dari Universitas Tokyo. Ia menilai langkah ini lebih bertujuan memamerkan kemampuan negara itu mencapai hal yang sama dengan AS.

Selain itu, Tiongkok juga fokus pada misi eksplorasi Bulan, dengan target mendaratkan manusia di sana pada 2030. Upaya ini menjadi bagian dari visi pemerintahan Xi Jinping menjadikan Tiongkok sebagai negara adidaya di bidang angkasa. Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa Beijing merencanakan misi penerokaan Mars pada 2028 dan mengembalikan sampel dari Mars ke Bumi pada 2031.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *