New Policy: Dunia Dihantam Lonjakan Harga BBM, Negara Ini Paling Parah Kenaikannya
Lonjakan Harga BBM Mengguncang Dunia, Negara-Negara Ini Alami Kenaikan Terparah
Kenaikan BBM Meluas di Berbagai Negara
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang memanas sejak akhir Februari 2026 memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara global. Meski pasar awalnya hanya mengantisipasi fluktuasi sementara, hampir dua bulan kemudian, harga BBM di tingkat konsumen terus meningkat tanpa tanda penurunan. Faktor ketegangan geopolitik serta kekhawatuan tentang gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia berkontribusi signifikan terhadap tren ini.
Asia Tenggara Jadi Wilayah Terparah Terkena Kenaikan
Asia Tenggara menjadi daerah paling rentan akibat lonjakan BBM, dengan Myanmar mencatat kenaikan terbesar di dunia, mencapai 101% sejak 23 Februari. Penyebab utamanya adalah ketergantungan tinggi pada impor bahan bakar olahan dan melemahnya nilai tukar mata uang domestik. Di belakangnya, Filipina dan Malaysia mengalami kenaikan masing-masing sebesar 73% dan 68%. Keseluruhan kawasan ini menyumbang setengah dari daftar 10 negara dengan kenaikan harga BBM tertinggi.
Ketimpangan Dampak antar Negara
Kenaikan BBM tidak merata, dengan negara-negara miskin yang menanggung beban lebih berat. Malawi, salah satu negara termiskin di dunia, kini membayar hingga US$3,84 per liter, naik 34% dari harga yang sudah tergolong mahal dibandingkan pendapatan rakyatnya. Di sisi lain, beberapa negara produsen seperti Arab Saudi dan Aljazair tidak mengalami kenaikan harga, berkat pasokan domestik yang stabil dan kebijakan pemerintah yang mengontrol harga.
Di luar kawasan Asia Tenggara, dampak kenaikan bervariasi. Amerika Serikat mengalami kenaikan sekitar 35%, angka yang politiknya sensitif mengingat komitmen negara untuk mencapai kemandirian energi. Sementara Kanada dan kebanyakan negara Eropa Barat hanya mengalami kenaikan antara 10% hingga 25%, didukung oleh cadangan strategis dan kebijakan pajak energi yang lebih fleksibel.