Solution For: Kisah perempuan Nabire di garis depan lawan malaria

Kisah perempuan Nabire di garis depan lawan malaria

Dalam suasana HARI MALARIA Sedunia, Sabtu (25/4/2026), di Kampung Kalisusu, Kabupaten Nabire, seorang perempuan berpakaian khas dengan atribut “Kader Perkasa” sedang mengunjungi rumah warga. Nama perempuan tersebut adalah Siti Ismawati Made, yang dengan langkah ringan memasuki lingkungan perumahan sederhana. Ia tidak menggunakan alat bantu modern, melainkan tas kecil berisi alat pemeriksaan dasar dan pengetahuan yang didapat dari pelatihan kesehatan.

Di depan pintu rumah, keluarga yang menanti terlihat gelisah. Seorang anggota keluarga sedang sakit. Siti langsung memeriksa kondisi pasien, menanyakan gejala seperti demam dan keringat dingin. Setelah memastikan kecurigaan malaria, ia merekomendasikan agar korban segera periksa ke puskesmas. Sebelum pergi, ia memberi nasihat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Rutinitas berkelanjutan

Kunjungan ke rumah warga bukanlah hal baru bagi Siti. Ia telah mengabdikan diri sebagai kader kesehatan sejak akhir masa pandemi COVID-19. Awalnya, perannya hanya fokus pada malaria, tetapi kini ia juga menangani TBC dan HIV/AIDS. “Dulu kami hanya kader malaria. Sekarang sudah jadi Kader Perkasa, fokus-nya malaria, TBC, dan HIV/AIDS,” ujarnya dalam wawancara dengan ANTARA.

Kerja Siti didukung oleh tiga rekan kader lainnya. Mereka bersama-sama memantau delapan RT di wilayah Kalisusu, berkoordinasi dengan Puskesmas Karang Mulia. Jika terdapat laporan kasus malaria, tim langsung turun ke lokasi untuk memeriksa lingkungan dan sumber penularan. Tidak hanya memberi obat, tetapi juga menyebarkan pemahaman tentang cara mencegah penyakit.

Persetujuan dan keteguhan

Meski konsistensi kerja Siti mulai membangun kepercayaan warga, jalan menuju keberhasilan tidak selalu mulus. Di awal, beberapa penduduk meragukan kehadiran kader kesehatan. Bahkan ada yang menolak atau tidak percaya. Namun, setiap kunjungan dan upaya edukasi akhirnya membuka hati mereka.

Kini, masyarakat lebih terbuka. Meski begitu, tantangan baru muncul. “Kalau HIV/AIDS, banyak yang takut melapor. Mereka malu,” keluh Siti. Ia menekankan bahwa edukasi dan pengobatan adalah kunci mencegah penyebaran penyakit. Di Nabire, kasus TBC dan HIV/AIDS masih tinggi, sehingga kehadiran kader seperti dirinya tetap dibutuhkan.

Beberapa hari sebelumnya, Siti menemui seorang pendulang di Kali Harapan. Awalnya, pria itu mengaku tidak mengalami gejala malaria. Namun setelah pemeriksaan, hasilnya positif malaria tropika. Ia menyarankan korban untuk periksa lebih lanjut di puskesmas agar kondisi bisa dikontrol.

Di balik semangatnya, Siti menyadari keterbatasan yang ada. Peralatan di lapangan masih kurang memadai, terutama untuk pemeriksaan lanjutan. Ia berharap pemerintah terus memberikan dukungan bagi para kader kesehatan, agar perjuangan melawan penyakit dapat berjalan lebih efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *