Key Discussion: Klaim Purbaya soal Modal Asing Guyur RI Realistis atau Omon-omon?
Klaim Purbaya soal Modal Asing Guyur RI Realistis atau Omon-omon?
Dalam pertemuan di Washington DC, Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, menyatakan arus dana asing ke Indonesia akan mengalami peningkatan. Klaim ini dilakukan setelah ia bertemu dengan International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, lembaga pemeringkat internasional, serta 18 perusahaan investasi global. Purbaya menyebut lembaga tersebut memberikan penilaian positif terhadap kebijakan fiskal Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pemerintah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi cepat sekaligus mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan.
Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan mengungkapkan aliran dana asing tak lama lagi akan memperkuat pasar modal Indonesia. Namun, apakah klaim ini terbukti atau sekadar aspirasi? Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan bahwa pernyataan tersebut realistis sebagai harapan, meski belum mencerminkan kondisi pasar saat ini. Ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dengan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen, pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 5,39 persen, dan inflasi April sebesar 3,48 persen.
“Masalahnya, pasar belum memberi konfirmasi penuh,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/4).
Syafruddin menyebutkan nilai tukar rupiah yang masih berada di sekitar Rp17.125 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp17.150 menjadi salah satu hambatan. Selain itu, Bank Indonesia masih perlu menegaskan kesiapan menggunakan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas. Kondisi ini menunjukkan arus dana asing belum sepenuhnya berbalik.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengingatkan bahwa klaim Purbaya masih prematur. Ia menyoroti lembaga pemeringkat S&P yang masih menempatkan Indonesia sebagai negara paling rentan di Asia Tenggara. “Ada ketidaksesuaian antara laporan rating dan klaim pemerintah,” katanya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet juga mempertanyakan keakuratan klaim tersebut. Menurutnya, pertemuan internasional memang meningkatkan sentimen, tetapi belum tentu menghasilkan investasi nyata. Investor global, katanya, memilih masuk karena kredibilitas kebijakan, bukan hanya karena pertemuan. “Tanpa perbaikan fundamental, narasi ‘arus deras’ ini mungkin hanya berupa optimisme jangka pendek,” tambah Yusuf.
Syafruddin Karimi menambahkan bahwa Indonesia tetap menarik bagi investor, berdasarkan pertumbuhan yang stabil, inflasi terkendali, rasio utang moderat, pasar obligasi besar, serta peringkat utang layak investasi. Namun, daya tarik tersebut berkurang jika rupiah terus melemah, cadangan devisa turun dari US$151,9 miliar menjadi US$148,2 miliar, dan tekanan global akibat geopolitik serta kenaikan harga energi.
Menurut Yusuf, investor tidak hanya memperhatikan fondasi ekonomi, tetapi juga kecepatan respons kebijakan, arah kurs, dan potensi kerugian modal di pasar keuangan. Dengan adanya eskalasi di Selat Hormuz yang bisa mendorong harga minyak naik, risiko bagi Indonesia akan meningkat. Pemerintah harus memilih antara menaikkan harga energi atau menambah subsidi, yang berdampak pada anggaran fiskal.