Special Plan: RI Dibayangi Krisis Plastik, Ancaman Nyata atau Sekadar Alarm Dini?

RI Dibayangi Krisis Plastik, Ancaman Nyata atau Sekadar Alarm Dini?

Industri Petrokimia dan UMKM Terdampak Kenaikan Biaya Bahan Baku

Krisis plastik mulai merumputkan sektor industri dalam negeri, dengan pelaku petrokimia seperti Chandra Asri dan Lotte Chemical melaporkan kelangkaan bahan baku yang memengaruhi operasional mereka. Di sisi lain, industri makanan dan minuman mengalami kenaikan biaya kemasan. Bahkan, dampak kondisi ini mencapai tingkat pedagang kecil, yang mulai menaikkan tarif produk mereka akibat biaya plastik yang meningkat.

Menurut Syafruddin Karimi, penyebab kelangkaan bahan baku plastik bersumber dari gangguan berlapis di rantai pasok global. Konflik di Timur Tengah memicu ketidakstabilan pasokan energi, menghambat pelayaran di jalur vital, dan mendorong kenaikan harga bahan dasar seperti nafta serta propana.

Krisis Struktural dalam Rantai Pasok

Syafruddin menjelaskan, kenaikan harga bahan dasar secara langsung berdampak ke produk turunan seperti etilena dan propilena, yang akhirnya menekan harga resin plastik. [Gambas:Youtube] “Rantai harga ini menunjukkan bahwa masalah yang muncul bukan isu lokal, melainkan gangguan struktural dari hulu energi hingga hilir manufaktur,” tuturnya.

Ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku membuat tekanan global cepat menyebar ke dalam negeri. “Dalam situasi seperti ini, krisis tidak selalu datang dalam bentuk barang hilang dari pasar. Krisis justru sering muncul lebih dulu dalam bentuk pasokan yang tersendat, pembelian yang tertunda, dan harga yang semakin sulit dijangkau oleh industri pengolahan,” ujarnya.

Peringatan Dini yang Perlu Diwaspadai

Pandangan serupa disampaikan Yusuf Rendy Manilet dari CORE. Menurutnya, kondisi saat ini berada pada tahap peringatan dini, meski belum mencapai krisis penuh. “Kalau ditanya seberapa nyata ancamannya, menurut saya ini sudah masuk tahap early warning, belum krisis penuh, tapi arahnya ke sana kalau tidak diantisipasi,” jelasnya.

Ia menyoroti kombinasi tekanan global dan domestik sebagai pemicu utama. Di sisi global, konflik geopolitik Timur Tengah mengganggu pasokan energi serta bahan turunannya, sementara dari sisi domestik, kenaikan nilai tukar memperparah kondisi dengan meningkatkan biaya impor.

“Jadi yang terjadi bukan hanya kelangkaan fisik, tapi juga tekanan harga yang berlapis,” imbuhnya.

Kelompok Rentan dalam Krisis

Direktur INDEF Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga plastik bisa mencapai 50 hingga 100 persen akibat gangguan pasokan global. “UMKM menjadi kelompok paling rentan, terutama sektor kuliner yang bergantung pada kemasan,” ujarnya.

Dampaknya dirasakan pelaku usaha kecil, mulai dari kenaikan biaya operasional hingga penurunan daya saing. “Beberapa pedagang melaporkan harga bahan baku plastik naik dua kali lipat,” jelasnya.

Kondisi ini memaksa pelaku usaha mengambil keputusan sulit antara mempertahankan keuntungan dan menyesuaikan harga jual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *