Key Discussion: Review Film: Lee Cronin’s The Mummy

Review Film: Lee Cronin’s The Mummy

Penilaian terhadap Lee Cronin’s The Mummy memerlukan analisis yang lebih mendalam. Meski dianggap kreatif sebagai film reimajinasi cerita klasik, bagi penggemar saga monster itu, karya ini kurang mengejutkan. Cronin mencoba menghadirkan kembali cerita monster legendaris ini dengan pendekatan yang lebih menarik. Ia menggali latar belakang mumi versi baru, bagaimana menghubungkannya dengan dunia saat ini, hingga dampak kecemasan pada keluarga. Dalam hal budaya, Cronin lebih menonjolkan kehadiran Arab dan Mesir, bukan sekadar latar belakang.

Bahkan, karakternya memiliki kontribusi yang lebih luas dibanding versi sebelumnya. Budaya Timur Tengah tidak hanya menjadi tempat latar, tetapi juga bagian dari narasi. Namun, penulis dan sutradara ini lebih banyak mengutamakan elemen supranatural, mengurangi kadar petualangan dan drama fantasi yang menjadi ciri khas The Mummy dari Universal Pictures, terutama di era 1999-2017.

Berhubung Lee Cronin’s The Mummy juga diproduksi oleh James Wan dan Jason Blum yang dikenal sebagai pengarung saga horor seperti The Conjuring dan Insidious, tak heran jika film ini mengingatkan pada genre tersebut.

Karena itu, formula teror yang dibuat Cronin lebih berupa kuasa gelap, bukan hanya monster. Unsur gerakan kehendak, poltergeist, serta perubahan lingkungan di sekitar tokoh menjadi fokus utama. Dalam hal ini, film ini terasa seperti saudara jauh dari Evil Dead Rise (2023), yang membanjirkan efek visual dan kegembiraan. Salah satu kesamaan antara keduanya terlihat dari cara penggunaan kamera, yang menunjukkan upaya Cronin untuk mengadopsi pendekatan Dave Garbett.

Garbett terlibat dalam Evil Dead Rise (2023), dan ia menyanggupi tugas tersebut. Hasilnya, beberapa adegan Lee Cronin’s The Mummy justru lebih intens dalam membangun ketegangan. Meski memberi sensasi baru bagi saga ini, faktanya membuat karya terasa jauh dari identitas waralaba The Mummy yang sebelumnya dikenal.

Meski demikian, bagian yang menyegarkan terletak pada permainan visual Garbett dan kemunculan May Calamawy. Pemeran berdarah Mesir-Palestina ini membawa bahasa Arab secara langsung, memberikan dimensi asal-usul mumi yang lebih kaya. Bukan hanya Calamawy, tokoh lain dengan latar Timur Tengah seperti Hayat Kamille dan May Elghety juga menghadirkan inklusivitas yang lebih kuat. Namun, kejelasan ini bisa jadi berbeda jika film ini tidak menggunakan nama The Mummy.

Kendati tidak mengusik secara keseluruhan, Lee Cronin’s The Mummy memperkuat legasi yang dibuat John L. Balderston, Nina Wilcox Putnam, dan Richard Schayer pada 1932. Karya ini membuka peluang baru dalam interpretasi ulang cerita klasik. Cronin, Wan, Blum, dan John Keville membuktikan bahwa reimaginasi tidak harus sepenuhnya berbeda, bisa muncul dari cerita legendaris yang terus dikembangkan. Tapi, perlu lebih dari sekadar teknik modern untuk memastikan hasil yang memuaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *