Main Agenda: Komnas HAM Ungkap 4 Kekerasan Besar di Papua, Korban Jiwa 14 Orang

Komnas HAM Ungkap 4 Kekerasan Besar di Papua, Korban Jiwa 14 Orang

Komnas HAM Papua, yang bermarkas di Jayapura, melaporkan adanya empat kejadian kekerasan signifikan sejak awal tahun 2026. Keempat peristiwa ini menyebabkan kematian setidaknya 14 orang, serta siksaan terhadap belasan warga sipil dan perpindahan puluhan masyarakat dari kampung mereka.

“Kemudian, peristiwa yang menimbulkan siksaan terhadap 13 warga sipil dan puluhan masyarakat mengungsi meninggalkan tempat tinggal mereka,” kata Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey dalam pernyataan resmi, Rabu (15/4) yang dikutip dari Antara.

Dalam keterangan tersebut, Frits Ramandey menjelaskan bahwa kekerasan besar terjadi di beberapa daerah. Dua di antaranya adalah pembunuhan dua pilot di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, pada Februari 2026, serta serangan terhadap Pos TNI di Kampung Sori, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, Maret 2026.

“Selanjutnya, terjadi pembunuhan tenaga medis di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw (Maret 2026), dan kejadian kekerasan lain yang menyebabkan korban jiwa di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada 31 Maret 2026,” tambahnya.

Selain itu, lembaga tersebut juga menyebutkan adanya pertemuan dengan perwakilan mahasiswa untuk membahas tren kekerasan di Papua dan upaya penyelesaian konflik. Pertemuan tersebut dihadiri 15 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, di Kota Jayapura.

“Kegiatan ini bertujuan memperkuat fungsi koordinatif dengan mahasiswa yang merupakan mitra strategis. Pendapat mereka penting untuk didengar dalam mendorong situasi pelaksanaan hak asasi manusia yang stabil di Papua, serta mengambil langkah mitigasi yang mungkin dilakukan,” ujarnya.

Para mahasiswa dalam pertemuan tersebut juga mendorong Komnas HAM untuk membangun forum nasional yang melibatkan berbagai kalangan. Forum ini diharapkan menjadi tempat diskusi bersama untuk menyelesaikan konflik di Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *