Key Strategy: Ngalah Sama ARMY, Pramono Buka Opsi Konser BTS di GBK
Ngalah Sama ARMY, Pramono Buka Opsi Konser BTS di GBK
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan mendapatkan reaksi tajam dari para penggemar BTS, ARMY, terkait pilihan tempat penyelenggaraan konser di ibu kota. Ia akhirnya memutuskan untuk mengalah dan membuka kemungkinan GBK sebagai venue. Awalnya, Pramono menyarankan agar konser tersebut diadakan di Jakarta International Stadium (JIS), tetapi kini ia bersedia menerima alternatif lain.
“Karena kemarin saya bilang saya mau BTS-nya main di JIS, waduh ARMY-nya marah semua sama saya. Dan anak saya juga ARMY kebetulan, ‘Udah lah bapak biar mainnya di GBK aja.’ Kali ini saya ngalah, kalau main di GBK juga enggak apa-apa,” tutur Pramono saat menghadiri acara Halal Bihalal Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB di Jakarta Selatan, Minggu (19/4), dilansir DetikPop.
Pramono juga menyebutkan, anaknya yang seorang penggemar BTS memberikan masukan yang memengaruhi keputusan tersebut. “Sampai saya bangun tidur, anak saya mengetuk pintu dan mengatakan, ‘Bapak, mengapa masih mengurus ARMY? Biar mereka yang menikmati.’ Saya mengiyakan, ‘Oke, mulai hari ini, Bapakmu tidak akan lagi membuat pernyataan.’ Maka, keputusan diberikan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.
Tahun ini, Jakarta akan menjadi penyelenggara beberapa konser besar, seperti Guns N’ Roses, Metallica, dan The Weeknd. Namun, untuk konser BTS, ia sempat ragu dalam menyatakan keputusan pasti. Sebelumnya, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2027 di Balai Kota Jakarta, pada Kamis (16/4), Pramono menyatakan sedang memperjuangkan JIS sebagai venue konser BTS.
Menurutnya, menghadirkan konser musisi internasional merupakan bagian dari upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global. Konser artis internasional dapat meningkatkan daya tarik Jakarta, tidak hanya sebagai pusat bisnis tetapi juga destinasi wisata. Pramono juga menyoroti peningkatan durasi tinggal wisatawan di Jakarta dari sekitar 1-1,5 hari menjadi hampir 3 hari, yang didorong oleh kegiatan belanja dan hiburan.
“Kenapa itu terjadi? Karena wisatawan merasa Jakarta bukan hanya pusat bisnis, tetapi juga menjadi destinasi wisata. Bahkan, wisata utamanya kini adalah wisata belanja,” katanya.