Solving Problems: Bongkar Skandal Korupsi, An Se Young Dapat Hadiah Rp500 Juta Lebih
Bongkar Skandal Korupsi, An Se Young Dapat Hadiah Rp500 Juta Lebih
Penghargaan Demokrasi dan Perdamaian 19 April
Atlet bulu tangkis Korea Selatan, An Se Young, dianugerahi penghargaan serta uang tunai lebih dari Rp500 juta setelah membongkar kasus korupsi di dalam tubuh Asosiasi Badminton Korea. Penampilan 24 tahun ini menggabungkan keanggunan dan kekuatan yang mencuri perhatian. Namun, di luar lapangan, suaranya menjadi perisai yang mengungkap kelemahan sistem bulu tangkis Korea.
Setelah meraih gelar juara Olimpiade Paris 2025, An Se Young menciptakan gempuran di dunia bulu tangkis dengan langsung mengungkap masalah penanganan atlet Korea serta tekanan untuk menggunakan produk sponsor. Pernyataannya memicu Kementerian Olahraga Korea untuk menyelidiki lebih lanjut skandal korupsi di organisasi induk olahraga tepok bulu. Keberanian atlet tersebut memperoleh apresiasi dari Penghargaan Demokrasi dan Perdamaian 19 April, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Alumni Fakultas Ilmu Liberal Universitas Seoul.
Pada Jumat (17/4), acara penghargaan berlangsung di Seoul. An Se Young menerima gelar dan dana sebesar 50 juta won, setara Rp584.169.500. Steering committee penghargaan menjelaskan, fokus utama pemberian penghargaan adalah kemampuan An mengungkap sisi gelap yang tersembunyi di dunia bulu tangkis Korea setelah Olimpiade Paris. “An menunjukkan keberanian mengungkap kebenaran tanpa takut menghadapi kerugian atau kritik,” ujar komite tersebut. “Hasilnya, kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan dan penyimpangan yang sudah lama berlangsung kini terbuka, baik di komunitas bulu tangkis maupun sektor olahraga Korea.”
“Penghargaan ini bukan hasil kerja saya saja, tetapi hasil dari usaha banyak pihak dan hati orang-orang yang bersama saya,” kata An Se Young melalui laporan Chosun. “Yang membuat saya bangkit di setiap momen sulit adalah orang-orang yang membuat saya lebih percaya pada proses dibanding hasil. Saya tidak akan melupakan arti penting penghargaan ini dan akan melangkah maju ke arah yang lebih baik dengan rasa tanggung jawab.”
Penghargaan Demokrasi dan Perdamaian 19 April diinisiasi oleh Asosiasi Alumni Fakultas Ilmu Liberal Universitas Seoul pada 2020. Acara ini dirancang untuk mengenang ulang tahun ke-60 Revolusi 19 April. Pada 19 April 1960, gerakan protes massal pro-demokrasi di Korea Selatan berhasil menggulingkan rezim otoriter presiden Syngman Rhee.