Key Discussion: Selat Hormuz Masih ‘Disandera’ Iran-AS, Xi Jinping Akhirnya Buka Suara
Selat Hormuz Masih ‘Disandera’ Iran-AS, Xi Jinping Akhirnya Buka Suara
Pertama kali dalam beberapa bulan, Xi Jinping memberikan pernyataan resmi mengenai tindakan penghalang yang dilakukan Iran dan AS terhadap Selat Hormuz. Hal ini terjadi saat ia melakukan panggilan telepon dengan Pangeran Mohammad bin Salman, yang menjadi perwakilan Arab Saudi dalam diskusi soal gangguan terhadap jalur distribusi energi global.
Xi menekankan komitmen China terhadap pemulihan perdamaian dan penyelesaian konflik melalui mekanisme politik serta diplomatik. “Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk pelayaran normal, karena ini penting bagi kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional,” ujarnya, seperti dilaporkan Al Jazeera. Meski tidak menyebutkan secara eksplisit pihak-pihak yang terlibat, Xi menyatakan bahwa penutupan jalur tersebut telah mengganggu aliran perdagangan internasional selama tujuh minggu terakhir.
Presiden AS Donald Trump, di sisi lain, menulis di akun media sosial Truth, “Saya memenangkan Perang, dengan telak, semuanya berjalan sangat baik.” Ia juga mengklaim bahwa blokade militer akan terus berlanjut hingga Washington berhasil mencapai “kesepakatan” dengan Teheran.
Kebijakan Iran menutup Selat Hormuz terjadi setelah konflik dengan AS dan Israel memanas pada 28 Februari. Dalam beberapa hari berikutnya, AS memperketat langkah-langkahnya dengan mengunci semua pelabuhan Iran pada 13 April. Analis internasional menganggap sikap China dalam skenario ini lebih berorientasi pada strategi yang menguntungkan, daripada langsung memasuki front konflik.
Kepala program kebijakan Asia-Israel di Institut Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri, Gedaliah Afterman, mengatakan, “China memperoleh keuntungan bukan dengan tindakan dramatis, tetapi melalui pengamatan dan memanfaatkan peluang untuk memposisikan diri, sambil membiarkan Amerika menangani kekacauan tersebut.”