Latest Program: Skema Kota Satelit, Sejarah Blok M, dan Blok Lain yang Terhapus Waktu

Sejarah Blok M sebagai Kota Satelit

Blok M kini berdiri sebagai pusat aktivitas di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wilayah ini tidak terlepas dari sejarah panjang pembangunan kota satelit di area tersebut, yang awalnya terdiri dari beberapa blok lain hingga akhirnya hanya Blok M yang bertahan di peta. Dulu, Kebayoran Baru adalah bagian dari wilayah yang dibagi menjadi Blok A, Blok B, hingga Blok S. Namun, seiring waktu, sebagian besar blok tersebut menghilang dari peta, meninggalkan Blok M sebagai bagian yang masih terkenal.

Asal Usul Rancangan Kota Satelit

Sejarah Blok M dimulai pada masa Hindia Belanda, saat Batavia (Jakarta saat ini) membangun rencana kota satelit pertama pada tahun 1938. Rancangan ini masih bersifat konsep hingga kemerdekaan Indonesia. Di tahun 1948, sejarawan Jakarta Andi Achdian menjelaskan bahwa pembangunan kota satelit di Kebayoran kembali digagas karena lonjakan penduduk di Jakarta. Moh Soesilo, sebagai arsitek, merancang Kebayoran sebagai kawasan pemukiman hijau yang terintegrasi, mencakup aspek hunian, transportasi, dan administrasi.

“Kebayoran itu merupakan wilayah yang strukturnya dibangun blok per blok. Itu struktur yang dibangun oleh Soesilo saat itu sebagai arsitek untuk membayangkan sebuah kota satelit yang bisa menopang pemerintahan Republik Indonesia,”

Ditambahkan Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).

Perubahan Nama Blok dalam Peta Kebayoran Baru

Pada masa Orde Baru, terjadi banyak transformasi. Penamaan “Blok” dianggap tidak efektif, terutama dengan munculnya kawasan dan jalan baru di Jakarta. “Itu perubahan yang terjadi pada masa Orde Baru, kan ada pembangunan lain-lain. Blok-blok itu dihapus karena mungkin enggak fungsional saat itu. Lalu juga kan ada penamaan nama-nama baru ya sejak Orde Baru, pakai nama pahlawan-pahlawan,”

“Jadi ada politik penamaan baru yang mengubah nama lama,”

terang Kaprodi Sosiologi FISIP Universitas Nasional (UNAS).

Mengapa Blok M Tetap Ada?

Dari 19 blok alfabet, hanya Blok A, Blok M, dan Blok S yang masih dipertahankan hingga hari ini. Hal ini tidak terkait dengan keistimewaan Blok M, melainkan karena fungsi awalnya yang tetap relevan. Misalnya, Blok A dan Blok S masih berperan sebagai kawasan pemukiman, sedangkan blok-blok lain mengalami perubahan fungsi dan nama. Blok M, sejak awal, dirancang sebagai pusat hubungan dalam kota satelit trapesium yang dibuat Moh Soesilo.

“Blok M itu ada di tengah-tengah. Di situ ada kawasan pemukiman, niaga, dan transportasi. Maka saya kira itu yang bikin Blok M bisa bertahan kuat, karena fungsinya sebagai hub,”

ungkap Andi.

Peta Kebayoran Baru Saat Ini

Walaupun nama dan lokasi blok-blok berubah, struktur awal dari rencana Moh Soesilo masih terlihat di peta Kebayoran Baru saat ini. Blok A kini berada di Kelurahan Gandaria Utara, sedangkan Blok B, C, dan D terletak di Kelurahan Kramat Pela. Meski banyak blok yang lenyap dari peta, Blok M tetap bertahan sebagai simbol kawasan sentral yang tetap menjadi tujuan utama masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *