Main Agenda: Menperin Sebut Kiriman Bahan Baku Plastik Molor 50 Hari Imbas Hormuz
Kemenperin: Pengiriman Bahan Baku Plastik Terhambat 50 Hari karena Gangguan di Selat Hormuz
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa jadwal pengiriman bahan baku industri petrokimia, termasuk plastik, kini mengalami penundaan hingga 50 hari akibat gangguan di Selat Hormuz. “Sebelumnya, rata-rata waktu pengiriman sekitar 15 hari, namun kini bisa mencapai 50 hari. Situasi ini tentu menambah beban biaya produksi,” jelas Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (17/4).
Geopolitik Global Berdampak pada Rantai Pasok
Pernyataan tersebut dikeluarkan saat Kemenperin menghadapi kekhawatiran mengenai dampak dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, terhadap sistem distribusi bahan baku petrokimia dan plastik nasional. Dalam upaya mengatasi tantangan ini, pemerintah mengadakan pertemuan dengan berbagai pelaku industri, mulai dari hulu hingga hilir, serta daur ulang plastik.
Industri Optimis Stok Plastik Tetap Aman
Hasil pertemuan menunjukkan bahwa para pelaku industri menunjukkan optimisme terkait ketersediaan stok plastik dalam negeri. Namun, Agus menegaskan bahwa pemerintah tetap memantau dinamika global secara ketat. “Kami mendapatkan jaminan bahwa stok plastik tidak akan mengalami masalah, tetapi saya menekankan kata ‘seharusnya’ karena pemerintah akan terus memastikan perkembangan situasi,” tuturnya.
“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujar Agus.
Fluktuasi Harga Plastik Dipengaruhi Biaya Logistik
Kemenperin mengakui bahwa gangguan di Selat Hormuz memicu ketidakstabilan harga plastik dalam negeri. Faktor utama penyebabnya adalah kenaikan biaya logistik, tarif pelabuhan, serta tambahan biaya surcharge. Keterlambatan pengiriman bahan baku dari luar negeri juga berkontribusi pada tekanan biaya produksi yang lebih tinggi.
Upaya Mempertahankan Suplai Plastik untuk Usaha Kecil
Dalam forum tersebut, para pelaku industri menyatakan komitmen untuk menjaga kelancaran suplai plastik, khususnya bagi usaha kecil yang masih rentan. Agus menilai kondisi geopolitik saat ini menjadi peluang untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan bahan baku secara domestik.
Perkembangan Bahan Baku Alternatif Domestik
Di sisi lain, pertemuan ini membahas potensi pengembangan bahan baku substitusi nafta dari sumber lokal, seperti minyak sawit mentah (CPO). Meskipun masih ada tantangan dari segi keekonomian, opsi ini dinilai perlu dikaji lebih lanjut. “Kita harus mengeksplorasi seluruh potensi sumber daya nasional sebagai alternatif, meski tantangan keekonomiannya perlu dihitung matang,” tambah Agus.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah organisasi dan perusahaan, antara lain INAPLAS, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Asahimas Chemical, Indorama Group, serta berbagai asosiasi industri plastik dan daur ulang lainnya.