Latest Program: Kementan tegaskan industri sawit terapkan prinsip keberlanjutan
Kementan tegaskan industri sawit terapkan prinsip keberlanjutan
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan bahwa industri sawit di Indonesia telah menerapkan prinsip keberlanjutan serta ramah lingkungan sesuai standar yang diminta pasar global. Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri mengungkapkan, para pelaku industri sawit wajib memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai Permentan Nomor 33 Tahun 2025. Dalam dokumen tersebut, terdapat aturan mengenai aspek lingkungan dan tata kelola lahan secara legal.
Produktivitas dan kontribusi sawit terhadap perekonomian
Menurut Kuntoro, standar keberlanjutan yang diterapkan bisa diakui oleh negara lain. Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki nilai keberlanjutan yang universal. Sawit, katanya, memberikan dampak positif pada lingkungan dan berkontribusi signifikan untuk keberlanjutan. Ia menekankan bahwa sawit bukan hanya penting untuk pangan, tetapi juga energi, dengan target B50 yang akan berlaku pada Juli 2025.
“Sawit ramah lingkungan yang kita pijaki dan memberikan dampak positif pada lingkungan serta keberlanjutan,” ujar Kuntoro dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Peran sawit dalam pasokan global
Dalam konteks internasional, sawit Indonesia berkontribusi hingga 62 persen pada pasokan minyak sawit global dan lebih dari 54 persen terhadap produksi minyak nabati dunia. Hal ini disebabkan karena produktivitas sawit lebih tinggi 5–10 persen dibandingkan komoditas lainnya. Selain itu, data publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan menyebutkan bahwa Indonesia memiliki luas areal kelapa sawit terbesar dunia, mencapai 16,83 juta hektare (data 2025 dan 2026).
“Jadi sawit merupakan komoditas strategis nasional yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, tak hanya pangan tetapi juga energi,” katanya saat memberikan pemaparan dalam “1st International Environment Forum 2026: Sawit Merusak Lingkungan?”
Analisis global tentang penggunaan lahan
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Musdhalifah Machmud menegaskan bahwa tuduhan terhadap industri sawit sering kali tidak didasari pemahaman yang lengkap serta data yang valid. Data dari World Wide Fund for Nature United Kingdom menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit hanya menggunakan sekitar 6–11 persen dari total lahan yang digunakan untuk produksi minyak nabati global.
“Saat ini penggunaan lahan sawit di dunia mencapai 28,85 juta hektar tetapi mampu memproduksi 80 juta ton minyak nabati,” ujar Musdhalifah.
Menurutnya, produktivitas sawit sangat tinggi dalam menghasilkan minyak, sekaligus efisien dalam penggunaan lahan dibandingkan komoditas seperti kedelai atau bunga matahari. Ia menambahkan, jika produksi minyak sawit digantikan oleh komoditas lain, kebutuhan lahan akan meningkat drastis. Untuk menggantikan volume yang sama, dunia membutuhkan tambahan hingga ratusan juta hektare lahan baru.
Ke depan, Musdhalifah menegaskan bahwa industri sawit harus terus memperkuat prinsip keberlanjutan, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki komunikasi global.