Latest Program: Pengamat dorong penguatan implementasi strategi hadapi El Nino

Pengamat Dorong Penguatan Implementasi Strategi Hadapi El Nino

Dari Jakarta, para ahli menekankan perlunya penguatan strategi pemerintah dalam menghadapi ancaman fenomena El Nino, terutama pada sektor pertanian. Khususnya, penanganan air dan peningkatan produktivitas menjadi fokus utama. Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, menjelaskan bahwa dampak El Nino terhadap produksi beras bergantung pada kemampuan mitigasi dan respons kebijakan pemerintah.

“El Nino tidak selalu mengurangi hasil pertanian secara drastis, tetapi efeknya sangat bergantung pada upaya pencegahan dan kebijakan yang diterapkan,” kata Eliza saat dihubungi ANTARA, Jakarta, Jumat.

Eliza menilai langkah-langkah seperti ekspansi lahan pertanian, peningkatan efisiensi irigasi, serta penyediaan benih tahan kekeringan cukup tepat untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan. Namun, ia menyoroti beberapa keterbatasan struktural yang masih menghambat efektivitas kebijakan tersebut.

Menurutnya, sistem pertanian nasional masih sangat bergantung pada curah hujan, sementara infrastruktur irigasi belum mampu mengantisipasi kondisi kering secara maksimal. Selain itu, adopsi teknologi dan varietas tahan kekeringan belum merata, sehingga produktivitas pertanian sulit meningkat sebagai kompensasi penurunan luas tanam.

Eliza juga menyebutkan bahwa skala usaha tani yang kecil, dengan dominasi petani kecil, menjadi hambatan utama dalam percepatan intensifikasi pertanian. Secara historis, El Nino diketahui menurunkan produksi padi nasional sekitar 1-3 persen, dan bisa mencapai 2-5 persen dalam kondisi ekstrem.

Impact ini lebih besar di tingkat daerah akibat faktor kekeringan dan puso. Ia menambahkan, prediksi penurunan produksi pada Januari-Mei 2026 mencapai 2,22 persen secara tahunan, terutama karena penurunan luas panen pada musim panen puncak Maret hingga Mei.

Penyesuaian Pola Musim dan Infrastruktur Air

Pola musim yang tidak optimal, seperti curah hujan tinggi saat awal tanam dan menurun di akhir siklus, berpotensi mengganggu kestabilan hasil panen. Hal ini membuat sebagian produksi mungkin bergeser ke periode berikutnya. Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menegaskan bahwa langkah-langkah pemerintah dalam meningkatkan areal tanam, memperkuat sistem irigasi, serta menambah alokasi pupuk dan benih sangat penting.

“Sudah ada upaya mitigasi, tetapi efektivitasnya bergantung pada pelaksanaan di lapangan,” ujar Esther.

Esther menambahkan, kerja nyata di lapangan menjadi kunci keberhasilan strategi dalam mengurangi dampak El Nino terhadap pasokan dan harga beras. Ia juga memperhatikan bahwa penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), distribusi bahan pangan, serta bantuan kepada daerah terdampak perlu dioptimalkan.

Beberapa langkah konkret yang diambil pemerintah, seperti pembangunan 13 bendungan dan rehabilitasi jaringan irigasi seluas lebih dari 412 ribu hektare, dinilai perlu terus dipantau. Alokasi pupuk bersubsidi juga ditingkatkan dari 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton untuk mendukung produktivitas pertanian.

Langkah Strategis untuk Ketahanan Pertanian

Pengamat menyoroti pentingnya penyesuaian kalender tanam berdasarkan data iklim dan percepatan pembangunan infrastruktur air. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan daya tahan sektor pertanian terhadap perubahan iklim. Dengan peningkatan kapasitas pengelolaan air, produsen beras diharapkan tetap stabil meski menghadapi tantangan musim kering.

Langkah-langkah tersebut, menurut para ahli, mampu meminimalkan risiko penurunan produksi dan menjaga ketersediaan pasokan beras di pasar. Meski begitu, pelaksanaan yang tepat serta adaptasi terhadap kondisi iklim menjadi faktor penentu keberhasilan strategi jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *