New Policy: Cerita produksi pandai besi di Taratak yang meningkat 10 kali lipat
Cerita produksi pandai besi di Taratak yang meningkat 10 kali lipat
Di tengah hutan mahoni yang teduh, Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, suara palu dan besi berdentum bukan sekadar tanda kerja. Ia menjadi irama kehidupan yang membawa perubahan mendalam. Dulu, bengkel kecil-kecilan hanya bisa menghasilkan sekitar 3.000 unit alat perkebunan per bulan. Kini, angka tersebut melonjak hingga 30.000 unit, lompatan yang mencapai sepuluh kali lipat.
Kemitraan yang Menjadi Fondasi
Transformasi ini dimulai dari program TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) PT Perkebunan Nusantara IV, melalui CV Mola Maju Basamo. Perusahaan tersebut tidak hanya mengambil produk, tetapi juga membimbing para pengrajin untuk berkembang. Bantuan awal berupa mesin air hammer dan automatic grinder senilai Rp115 juta menjadi katalis perubahan yang signifikan.
“Waktu itu ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir. Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami agar tetap bisa berproduksi,” ujar Desrico Apriyus, pimpinan CV Mola Maju Basamo.
Produktivitas yang Meningkat
Kehadiran teknologi modern mengubah cara kerja. Mesin air hammer, yang beroperasi di empat unit bengkel, mempercepat proses penempaan sambil memastikan presisi. Hal ini memungkinkan produksi mencapai 1.000 unit per hari, angka yang tak terbayangkan sebelumnya. “Tanpa kehadiran PTPN, sulit dibayangkan kami bisa menghasilkan sebanyak itu,” tambah Desrico.
Sejarah Kolaborasi yang Berkelanjutan
Kemitraan antara desa dan perusahaan tumbuh secara alami. Awalnya, hubungan hanya terbatas pada bisnis. Namun, dalam setahun, PTPN mengambil peran lebih luas. Mereka menyediakan dana pembiayaan bergulir sebesar Rp800 juta, memperkuat manajemen usaha dan membuka jalur distribusi yang lebih efektif. Bengkel-bengkel terdesak terintegrasi, menjadikan desa sebagai sentra produksi yang terorganisasi.
Peningkatan ini juga membawa dampak pada lapangan kerja. Puluhan pekerja kini terlibat, jumlahnya berkembang dari belasan orang menjadi 23, dengan proyeksi menembus 33 dalam waktu dekat. Selain itu, sekitar 100 pemuda desa turut menjadi mitra pemasaran, memanfaatkan platform digital serta menjual langsung ke pasar dan petani.
“Multiplier effect-nya jelas. Produksi meningkat, kebutuhan tenaga kerja bertambah, dan masyarakat ikut merasakan dampaknya,” pungkas Desrico.
Bagi para pekerja, perubahan ini berarti kesejahteraan yang lebih baik. Pendapatan bulanan karyawan meningkat dari terbatas menjadi sekitar Rp7 juta, dengan potensi naik ke Rp10 hingga Rp15 juta. Kehidupan ekonomi desa pun kian membaik, berkat kolaborasi yang berkelanjutan dan kepercayaan yang terbangun sejak masa sulit.