New Policy: Golkar: Kebijakan Presiden antarkan Indonesia capai ketahanan energi
Golkar: Kebijakan Presiden antarkan Indonesia capai ketahanan energi
Jakarta – Abdul Rahman Farisi, Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, menilai kebijakan yang diambil Presiden Prabowo Subianto telah membawa Indonesia menuju tingkat ketahanan energi yang lebih tinggi. Menurutnya, Presiden telah memanfaatkan kewenangan secara tepat dan terarah dengan mempercayai Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) sebagai penanggung jawab utama.
Struktur Terpadu untuk Kestabilan Energi
Abdul menekankan bahwa pembentukan Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi, yang diumumkan melalui Keputusan Presiden pada awal Januari 2025, memberikan dampak signifikan. “Struktur ini memastikan kebijakan tidak terfragmentasi, karena Menteri ESDM berperan penting sebagai ketua Satgas,” jelasnya.
“Dengan desain kelembagaan yang terintegrasi, sektor energi Indonesia kini lebih adaptif dalam merespons dinamika global,” kata Abdul.
Presiden juga memperkuat peran Menteri ESDM melalui Dewan Energi Nasional (DEN), yang sebelumnya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi. Menteri ESDM sekaligus menjabat sebagai Ketua Harian DEN, menurut Abdul. Ini memberikan koordinasi yang lebih baik antar kementerian dalam mengelola kebijakan energi.
Kinerja Nasional Tercatat dalam Laporan Internasional
Dalam laporan JPMorgan Asset & Wealth Management berjudul Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia dinyatakan berada di peringkat kedua dunia dalam ketahanan menghadapi krisis harga energi global. Laporan tersebut mencatat bahwa tingkat perlindungan energi negara mencapai sekitar 77 persen, didukung oleh sumber daya domestik seperti batu bara dan gas.
“Capaian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil berhasil menghasilkan dampak nyata,” ungkap Abdul.
Abdul menegaskan bahwa kesuksesan ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari desain kelembagaan yang matang, perencanaan kebijakan berbasis teknokrasi, serta eksekusi yang konsisten. “Indonesia mampu mempertahankan stabilitas pasokan dan harga energi di dalam negeri,” tambahnya.
Tantangan yang Masih Ada
Di tengah situasi geopolitik yang tidak pasti, Abdul mengingatkan bahwa posisi Indonesia yang stabil menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Namun, dia menekankan bahwa tantangan masa depan tetap harus diantisipasi, terutama dalam menjaga ketersediaan energi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.
“Publik mesti bisa memberi dukungan dan kesempatan kepada Kementerian ESDM dalam memastikan ketersediaan bahan bakar minyak, menetapkan harga BBM bersubsidi yang stabil, serta menyesuaikan harga BBM non subsidi,” kata Abdul.