New Policy: Wamentan dampingi Presiden sidak gudang Bulog Danurejo
Wamentan Dampingi Presiden Tinjau Gudang Bulog Danurejo
Di Jakarta, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bersama Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan tak terduga ke pusat penyimpanan beras Perum Bulog di Danurejo, Magelang, Jawa Tengah. Tujuan utama dari inspeksi ini adalah memastikan cadangan beras pemerintah tetap aman dan siap digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan serta harga pangan di dalam negeri.
“Presiden tidak hanya mendengar laporan secara tertulis, tetapi ingin melihat langsung kondisi stok beras di gudang. Ini dilakukan agar cadangan pangan benar-benar terjamin, aman, dan bisa segera disalurkan jika dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Sudaryono dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu.
Kunjungan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk mempertahankan ketahanan pangan, terutama di tengah tantangan global seperti krisis energi dan ketidakpastian di berbagai wilayah dunia. Sudaryono menegaskan, langkah ini bertujuan memastikan Indonesia tetap kuat dalam menghadapi dinamika pasar internasional.
Kesiapan Stok dan Produksi Nasional
Pada inspeksi, rombongan melihat kondisi gudang yang memiliki kapasitas 7.000 ton dan saat ini penuh terisi. Hal ini menunjukkan persiapan stok yang memadai untuk memenuhi kebutuhan warga, terutama di Jawa Tengah. Sudaryono menyebut, kehadiran Presiden langsung menjadi indikator bahwa pemerintah serius dalam mengawasi ketersediaan beras.
“Kunjungan ini mendadak, jadi tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tujuannya adalah menguji kenyataan atau catatan aktual di lapangan,” ujar Sudaryono. “Kemarin saya juga periksa gudang Bulog di tempat lain, termasuk Pak Mentan yang meninjau di Makassar, Bone, dan area lainnya. Semuanya penuh, itu catatan pentingnya,” tambahnya.
Produksi dan Stok Beras Naik
Sudaryono menyoroti kinerja produksi beras nasional yang menunjukkan peningkatan signifikan. Produksi pada 2025 meningkat 13,29 persen, mencapai 4,07 juta ton, didukung peningkatan luas panen dan kebijakan penguatan sektor pertanian. Hingga April 2026, cadangan beras pemerintah mencapai 4,8 juta ton, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, dengan target peningkatan ke 5 juta ton.
Dari sisi produksi, stok beras nasional diperkirakan mencapai 28 juta ton, setara dengan ketahanan pangan selama 11 bulan ke depan. Ini terdiri dari stok yang beredar di masyarakat hampir 12 juta ton, ditambah potensi panen dalam waktu dekat sekitar 12 juta ton.
Peran Strategis Bulog
Bulog diminta memperkuat perannya dalam menjaga keseimbangan harga pangan, baik untuk petani maupun konsumen. Salah satu upaya adalah instruksi pemerintah untuk percepatan serapan gabah nasional. Tahun 2025, target serapan gabah ditetapkan 3 juta ton, didukung anggaran Rp16,5 triliun.
“Penguatan peran Bulog juga didukung kebijakan pemerintah, termasuk Instruksi Presiden. Dengan alokasi dana yang memadai, pengelolaan pangan negara bisa lebih efektif,” jelas Sudaryono.
Mekanisme Stabilisasi Harga
Sudaryono menuturkan, Bulog memiliki peran penting dalam menyangga harga beras. Dengan menyerap 10–15 persen dari total produksi nasional, kapasitas penyimpanan Bulog mencapai 3,6–3,7 juta ton sebagai buffer stock. Mekanisme ini membantu menjaga harga di tingkat petani melalui Harga Pokok Produksi (HPP) dan di konsumen melalui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Langkah ini memastikan kedua pihak tidak dirugikan dalam transaksi. Pemerintah terus memperkuat Bulog sebagai penyangga harga pangan nasional, dengan target penyerapan gabah sebesar 4 juta ton untuk 2026, lebih tinggi dibandingkan tahun 2025.