Announced: Laporan: nilai transaksi e-commerce ASEAN naik 22,8 persen pada 2025

Laporan: Nilai Transaksi E-Commerce ASEAN Naik 22,8 Persen pada 2025

Singapura menjadi tempat pengumuman laporan terbaru yang menyatakan sektor e-commerce di Asia Tenggara terus berkembang dengan cepat pada 2025. Nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) platform e-commerce meningkat 22,8 persen secara tahunan (yoy), mencapai 157,6 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.122) pada tahun tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Momentum Works, perusahaan konsultan lokal.

Faktor Penyebab Pertumbuhan

Dalam laporan keempatnya berjudul “Ecommerce in Southeast Asia,” Momentum Works menekankan bahwa pertumbuhan industri ini didorong oleh ekspansi strategis dari platform utama, yang secara bersamaan meningkatkan kualitas infrastruktur, kecepatan pengiriman, dan pengalaman konsumen.

Dengan peningkatan tersebut, perusahaan menyatakan bahwa industri e-commerce mulai memasuki fase baru, di mana persaingan berubah dari pertumbuhan pesat menjadi fokus pada pengendalian permintaan, logistik, dan margin keuntungan.

Perkembangan Pasar Utama

Thailand dan Malaysia menjadi dua negara dengan pertumbuhan tercepat, masing-masing mencatat kenaikan GMV sebesar 51,8 persen dan 47,6 persen. Negara-negara lain seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga menunjukkan pertumbuhan dua digit yang melebihi 20 persen.

Indonesia, meski tetap menjadi pasar terbesar dengan pangsa 37 persen, mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 2,2 persen pada tahun 2025. Namun, secara keseluruhan, kawasan ini masih menunjukkan peningkatan signifikan.

Domestikasi Tiga Platform Utama

Laporan menyoroti dominasi tiga platform utama, yaitu Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, yang secara kolektif mengendalikan 98,8 persen dari total GMV e-commerce di ASEAN. Keterlibatan platform-platform ini mengubah dinamika pasar, memperkuat posisi mereka sebagai pemain utama.

Persaingan dan Kecenderungan Harga

Sebagian besar kenaikan aksesibilitas di kawasan ini masih bergantung pada subsidi, kupon, dan diskon, bukan pengurangan biaya secara struktural. Hal ini menunjukkan bahwa harga dalam e-commerce belum mencapai titik terendah yang optimal.

Dalam hal permintaan lintas batas, laporan menegaskan bahwa tren tetap kuat meskipun regulasi semakin ketat. Platform besar dianggap lebih siap untuk menyesuaikan diri dan memperluas pengaruh regional mereka.

Pengembangan di Masa Depan

Ke depan, kecerdasan buatan (AI) dianggap sebagai faktor disruptif utama yang akan membentuk masa depan e-commerce. Teknologi ini diperkirakan akan berperan krusial dalam bidang pembuatan konten dan pengelolaan permintaan, dengan platform utama menjadi pelaku utama dalam penerapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *