New Policy: Kurs rupiah masih dibayangi sentimen potensi negosiasi AS-Iran

Kurs rupiah masih dibayangi sentimen potensi negosiasi AS-Iran

Jakarta – Rupiah mengalami penurunan pada sesi pagi Rabu, turun 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.156 per dolar AS dari level penutupan sebelumnya di Rp17.143 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan bahwa kurs rupiah masih terpengaruh oleh kemungkinan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

“Optimisme terhadap kesepakatan perdamaian di Timur Tengah meningkat di sesi Asia, terutama setelah Wakil Presiden AS (JD Vance) berencana melanjutkan perundingan di Pakistan. Namun, penguatan rupiah terbatas karena ketidakpastian masih menghiasi proses negosiasi tersebut,” ungkapnya.

Mengutip laporan Sputnik, putaran kedua pertemuan AS-Iran untuk mencapai penyelesaian konflik dijadwalkan pada 22 April di Islamabad, Pakistan. Pemerintah Pakistan terus mendorong Iran agar mengikuti perundingan dengan AS. Hal ini karena delegasi utama Iran dan tim pendukungnya belum berangkat ke Pakistan untuk mengambil bagian dalam pertemuan tersebut.

Kemajuan dalam negosiasi perdamaian di Timur Tengah terlihat terhambat setelah JD Vance membatalkan kunjungannya ke Pakistan. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata akan diperpanjang hingga perundingan selesai.

Dari sisi ekonomi, data penjualan ritel AS pada Maret 2026 mencatat kenaikan sebesar 1,7 persen dibanding bulan sebelumnya, melampaui proyeksi pasar sebesar 1,4 persen mom. Dalam sentimen domestik, pihaknya memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.125-Rp17.225 per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *