Important Visit: Menko PMK nilai Nyepi relevan dengan kondisi dunia saat ini

Menko PMK nilai Nyepi relevan dengan kondisi dunia saat ini

Denpasar, Jumat – Dalam acara Dharma Santi Nasional 2026, Menko PMK Pratikno menilai Nyepi memiliki relevansi signifikan terhadap situasi dunia saat ini. “Dalam dunia yang serba bising, Nyepi menjadi cara untuk memulihkan kejernihan dan mengembalikan fokus perhatian kita,” tutur Pratikno di Denpasar, Bali, Jumat.

Puncak Perayaan Nyepi dan Nilai-Nilai yang Diusung

Menko PMK menyebut bahwa selama Nyepi, tubuh manusia berhenti sementara untuk mengambil waktu hening. Ia menekankan bahwa keempat prinsip Catur Brata Penyepian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Nyepi juga mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dalam situasi emosional, agar tidak terbawa oleh kebisingan,” jelasnya.

“Kalau di meja makan, kita bisa tidak memakai HP sendiri-sendiri. Saat ini banyak keluarga berkumpul fisik tapi tidak berkomunikasi. Maka, mari jalani Amati Lelungan dengan duduk tenang bersama keluarga dan mendengarkan anak-anak,”

Dalam ceramahnya, Pratikno menyampaikan bahwa Amati Geni mengajarkan kesabaran dalam menghadapi amarah dan kebencian. Sementara Amati Karya mengundang refleksi terhadap pekerjaan, memastikan kegiatan yang bermakna dan bernilai kemanusiaan. Amati Lelungan mendorong penghormatan terhadap keluarga dengan menghabiskan waktu bersama, jauh dari kebisingan.

“Amati Lelanguan mendorong kesadaran akan peristiwa yang menimpa manusia dan lingkungan, serta melatih empati terhadap penderitaan sesama,”

Menko PMK mengingatkan bahwa dalam kondisi dunia yang penuh gangguan, semangat Nyepi dapat menjadi perisai untuk mencegah kekacauan. “Keadilan tidak lahir dari kebisingan, tapi dari kejernihan dalam memandang diri sendiri dan sesama,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya menahan diri, berpikir mendalam, dan bertindak welas asih dalam upaya membentuk Indonesia yang lebih manusiawi.

Partisipan Acara dan Tema Perayaan

Dharma Santi Nasional 2026 yang bertema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju” merupakan puncak rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi saka 1948. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala BPIP RI, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, serta Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Isyana Bagoes Oka.

Penutupan rangkaian Nyepi di Taman Budaya Art Center juga dihadiri Gubernur Bali I Wayan Koster, Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Bali, dan tokoh adat serta agama lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *