Solving Problems: Pakar Unand ungkap penyebab Indonesia masih tergantung kedelai impor
Pakar Unand Ungkap Alasan Indonesia Masih Bergantung pada Impor Kedelai
Kota Padang – Profesor Ilmu Tanah dari Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat, Dian Fiantis, menyoroti berbagai tantangan yang menyebabkan Indonesia belum mampu mandiri dalam produksi kedelai. Menurutnya, faktor kesuburan tanah dan iklim menjadi pengaruh penting terhadap pengembangan pertanian kedelai nasional.
Dalam wawancara di Kota Padang, Senin, ia menjelaskan bahwa tanah tropis Indonesia cenderung masam, rendah bahan organik, serta kaya akan besi dan aluminium. Unsur-unsur ini bisa mengikat hara vital seperti fosfor, yang menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan kedelai. Kedelai, sebagai bahan baku utama tahu dan tempe, sangat rentan terhadap kondisi tanah yang tidak optimal.
“Masalah kedelai nasional tidak hanya berkaitan dengan volume produksi, tetapi juga dipengaruhi kondisi tanah, iklim tropis, serta sistem pertanian yang belum sempurna,” ujar Prof Dian.
Kondisi iklim tropis Indonesia dengan curah hujan tinggi dan radiasi matahari yang sering tertutup awan, menurutnya, kurang mendukung fase kritis pertumbuhan kedelai. Fase pembungaan dan pengisian biji terganggu karena tanaman mengalami kondisi lembap atau hujan. Sebaliknya, di negara-negara seperti Brasil dan Amerika Serikat, tanaman kedelai mendapat air cukup saat pertumbuhan awal dan kondisi kering saat fase pengisian biji, sehingga hasilnya lebih besar dan seragam.
Produktivitas kedelai di Indonesia saat ini berkisar antara 1,5 hingga 1,7 ton per hektare, jauh di bawah produsen utama dunia yang mencapai lebih dari 3,3 ton per hektare. Faktor lingkungan tumbuh, termasuk kelembapan udara dan pola curah hujan, menjadi penyebab utama perbedaan hasil ini.
Prof Dian menambahkan bahwa kekurangan fosfor menghambat proses energi tanaman yang diperlukan untuk pengisian biji. Meski tanaman terlihat tumbuh normal, hasilnya tetap tidak memenuhi potensi maksimal. Selain itu, tanah yang asam juga memperlambat aktivitas bakteri penambat nitrogen, yang krusial untuk pembentukan protein.