Special Plan: Dari kampung, kota menemukan Jiwanya
Dari kampung, kota menemukan Jiwanya
Dalam sebuah jalanan sempit di Krembangan, Kota Surabaya, kehidupan perkotaan tidak selalu terasa dengan kebisingan kendaraan atau laju pembangunan yang serba cepat. Di sini, interaksi antarwarga berjalan hangat, sapaan tetap terjaga, dan kerja sama sosial menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan. Dalam kehidupan sehari-hari seperti ini, konsep Kampung Pancasila mulai terwujud—bukan sebagai proyek simbolik, melainkan sebagai upaya menjaga inti kehidupan kota yang sering kali tergerus oleh modernitas.
Dalam upaya Surabaya menjadi kota global, program Kampung Pancasila justru mengajak masyarakat mengarahkan perhatian ke dalam, yakni pada kampung sebagai unit sosial dasar. Inisiatif ini penting dikaji bukan hanya sebagai kebijakan lokal, tetapi juga sebagai cerminan arah perkembangan kota di Indonesia. Apakah kampung akan menjadi tempat yang semakin individualistik, atau tetap terjalin dengan nilai-nilai kebersamaan?
Kampung Pancasila di Surabaya mengusung prinsip sederhana: nilai-nilai kebangsaan harus hidup dalam kehidupan nyata. Ia tidak berhenti sebagai diskusi besar di ruang publik, melainkan menembus ke lorong-lorong kecil, meja makan warga, hingga forum musyawarah RT dan RW. Pendekatan ini menarik karena menggeser fokus pembangunan dari proyek fisik ke relasi sosial.
Pejabat Kota Surabaya secara aktif menempatkan kampung sebagai pusat perubahan. Dengan melibatkan lebih dari 1.300 RW, program ini berupaya membangun kekuatan sosial dari tingkat masyarakat. Intervensi konkret pun dilakukan, seperti adanya pendampingan Aparatur Sipil Negara (ASN) di setiap RW. Skema ini memungkinkan penyelesaian masalah warga—mulai dari ketidaksesuaian data bantuan hingga pengelolaan lingkungan—lebih cepat dan relevan.
“Solidaritas warga Surabaya ternyata sangat kuat, terbukti dari makanan yang dibuat tetangga untuk warga yang isolasi, atau bantuan yang mengalir tanpa birokrasi.”
Dalam beberapa area, hasilnya mulai terlihat. Di Ngagel Rejo, misalnya, warga mandiri mengelola dana sosial hingga puluhan juta rupiah untuk bantuan lansia, penyakit, dan pendidikan. Di tempat lain, sistem pengamanan lingkungan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat berjalan efektif. Ini membuktikan bahwa ketika kepercayaan sosial terbangun, kampung bisa menjadi ruang ekonomi dan sosial yang tangguh.
Lebih dari itu, Kampung Pancasila juga mengusung aspek toleransi. Surabaya, sebagai kota multikultural, memiliki potensi konflik jika hubungan antarwarga tidak dirawat. Program ini mendorong praktik keberagaman melalui interaksi sehari-hari, kerja bakti lintas agama, serta pengelolaan dana sosial bersama. Di sini, Kampung Pancasila berfungsi sebagai “laboratorium sosial” yang menguji apakah nilai Pancasila masih relevan di tengah urbanisasi modern.
Jawaban awalnya menunjukkan tanda-tanda positif, tetapi tantangan di masa depan tidak mudah. Program ini harus terus berkembang agar mampu menjawab dinamika perkotaan yang semakin kompleks.