Topics Covered: Peneliti Unnes manfaatkan limbah daun jadi zat pewarna alam

Peneliti Unnes Manfaatkan Limbah Daun Jadi Zat Pewarna Alam

Diseminasi Kain Ecoprint di Semarang

Di Semarang, para peneliti dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) memperkenalkan inovasi baru dalam bidang tekstil. Mereka menggunakan sisa daun dari berbagai tanaman di lingkungan kampus sebagai bahan pewarna alami yang ramah lingkungan. Inisiatif ini dipamerkan dalam acara “Diseminasi Kain Ecoprint dan Diversifikasinya berbasis Tanaman Lokal dan Zat Warna Alam” di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, yang berlangsung pada Selasa.

Koordinator tim peneliti, Widowati, M.Pd, menjelaskan bahwa Unnes, sebagai kampus konservasi, memiliki banyak limbah daun yang bisa dimanfaatkan. Contohnya, daun mahoni dan ketapang. “Kan banyak banget loh (limbah daun, red.),” ujarnya. “Unnes kan kampus konservasi, jadi saya menggali sisa-sisa daun yang tersedia di sini.”

Kesulitan mereka adalah zat warna alam itu terbatas, warnanya juga mudah luntur, misalnya. Nah, kami sebagai akademisi meneliti supaya warnanya bisa lebih tajam, lebih awet, dan bervariasi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa meskipun produk berbahan pewarna alami memiliki harga lebih tinggi dibandingkan sintetis, permintaan dari pasar internasional tetap signifikan. Prof Margareta Rahayuningsih, ketua panitia acara, menyatakan bahwa hasil riset perguruan tinggi harus dihilirisasi dan disebarkan agar berdampak luas ke masyarakat.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan riset pewarna alami yang sudah berlangsung beberapa tahun. Kegiatan didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program EQUITY Unnes 2025/2026, serta dilakukan kerja sama dengan Disperindag Jateng. Selain pameran, ada juga peragaan busana dengan pewarna buatan, serta diskusi yang dihadiri narasumber dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Program Manager Omah Sawah, Dania Sindy, mengungkapkan bahwa komunitas ini telah bekerja sama dengan Unnes selama empat tahun. Mereka mengolah zat pewarna alami untuk berbagai produk, seperti batik dan ecoprint. Selain itu, memberikan edukasi kepada masyarakat, siswa, hingga mahasiswa dari luar negeri. “Kebetulan, ‘based’ Omah Sawah ini merupakan gerakan sosial dan konservasi. Jadi, sebagian hasil penjualan produk digunakan untuk mendukung kegiatan konservasi,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *