Facing Challenges: Menpora tanggapi dugaan tunggakan gaji pemain PSBS Biak
Menpora Tanggapi Dugaan Tunggakan Gaji Pemain PSBS Biak
Jakarta – Isu keterlambatan pembayaran gaji pemain PSBS Biak, tim yang turut serta di Liga Super 2025/2026, menjadi sorotan publik. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memberikan tanggapan terhadap permasalahan tersebut, menegaskan bahwa sistem pengelolaan liga sudah memiliki aturan yang jelas.
NDRC sebagai Payung Hukum
“Sebenarnya kalau isu di persepakbolaan itu, penyelenggara liga sudah memiliki mekanismenya. PSSI juga sudah mempunyai payung hukum melalui NDRC (National Dispute Resolution Chamber),” ujar Erick Thohir, yang juga ketua umum PSSI, di Jakarta, Jumat.
Menurut Erick, mekanisme lisensi klub dalam ekosistem sepak bola nasional memastikan setiap tim memenuhi persyaratan keuangan sebelum berlaga di liga resmi. Hal ini, katanya, diharapkan bisa mengatasi masalah finansial klub, termasuk pembayaran gaji pemain.
Dalam wawancara, ia juga menyebutkan bahwa pendapatan yang diberikan kepada klub telah meningkat dari sekitar Rp5 miliar per tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp17 miliar tahun ini. Peningkatan ini, menurutnya, dapat berdampak positif pada keberlanjutan operasional tim.
Menpora mengingatkan bahwa NDRC berperan penting dalam menyelesaikan sengketa antara pemain dan klub, terutama dalam kasus keterlambatan gaji. Ia menilai perlindungan pesepak bola saat ini lebih baik dibandingkan masa lalu, ketika mekanisme penyelesaian belum terstruktur rapi.
Sebelumnya, dugaan tunggakan gaji diungkap oleh Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) pada Kamis (16/4). APPI menyatakan bahwa PSBS Biak mengalami keterlambatan pembayaran selama tiga bulan terakhir.
Harapan untuk Penyelesaian
“Kami berharap seluruh kewajiban klub terhadap para pemain dapat segera diselesaikan demi menjaga iklim sepak bola Indonesia yang sehat dan profesional,” tulis APPI dalam pernyataan resminya yang diunggah melalui media sosial Instagram.
Erick menekankan bahwa pihak operator liga atau NDRC yang lebih tepat memberikan penjelasan detail terkait kasus tersebut. “Nanti mungkin mekanismenya silakan ditanyakan langsung ke pihak liga dan juga ke NDRC,” tambahnya.