Special Plan: Iran vs. AS-Israel: menuju tatanan dunia baru
Iran vs. AS-Israel: Tatanan Dunia yang Berubah
Jakarta – Pertikaian antara Iran dan kubu Amerika Serikat–Israel kini tidak hanya dianggap sebagai bentuk konflik lokal, tetapi juga sebagai tanda retaknya sistem internasional yang telah berlangsung sejak akhir Perang Dingin. Dalam perspektif geopolitik, persaingan ini menunjukkan gelombang perubahan yang mirip dengan awal Perang Dunia I dan II, di mana eskalasi konflik menjadi bukti dari pergeseran kekuatan yang sudah terjadi secara bertahap.
Transformasi Kekuatan Global
Konflik Iran melawan AS-Israel menegaskan pola klasik peralihan tatanan dunia. Ini melibatkan pertumbuhan konfrontasi langsung, setelah fase perang proxy yang berlangsung lama. Ketidakstabilan ekonomi global juga semakin terasa, sementara konfigurasi kekuatan baru mulai terbentuk. Tatanan ini lebih cair, mengandung lebih banyak pihak yang saling bersaing.
Bedanya, benturan kali ini tidak didasari oleh ideologi hegemonik tunggal, melainkan oleh kepentingan, identitas, dan persepsi ancaman yang saling terkait. Jika Perang Dunia I dimulai karena krisis aliansi, dan Perang Dunia II akibat ekspansi ideologi ekstrem, maka konflik kontemporer ini lebih mencerminkan krisis terhadap sistem global yang sebelumnya dianggap sah.
Strategi Decapitation dan Risiko Global
Salah satu strategi baru dalam pertarungan ini adalah decapitation, atau menargetkan kepemimpinan negara secara langsung. Serangan pada elite politik dan militer, bahkan selama negosiasi, menunjukkan bahwa perang tidak hanya menghancurkan angkatan bersenjata, tetapi juga mencoba menggoyahkan pusat kekuasaan.
Ini bukan taktik kecil, melainkan cara baru untuk memutus dominasi lama. Dampaknya terasa cepat karena banyak negara mulai merasa tidak ada zona aman, termasuk bagi pemimpin tertinggi. Konflik ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara-negara lain bisa menjadi korban serupa, berdasarkan dugaan ancaman yang belum terbukti.
“Normalisasi penargetan pemimpin negara akan merusak fondasi kepercayaan dalam diplomasi internasional,” tegas Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva.
“Praktik ini menciptakan preseden berbahaya yang bisa memperluas konflik dan mengancam prinsip kedaulatan,” peringat Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Setelah laporan bahwa lebih dari 50 pejabat Iran tewas dalam serangan terarah pada 2026, negara-negara Timur Tengah meningkatkan keamanan militer dan pengawasan terhadap tokoh utama. Rusia dan Tiongkok juga mengambil langkah serupa, dengan memperketat perlindungan terhadap kepemimpinan. Tiongkok, misalnya, melaporkan pembatasan pergerakan dan peningkatan sistem pengamanan ganda dalam kegiatan publik.
Konflik Iran vs AS-Israel berperan sebagai titik pemicu yang mempercepat degradasi sistem dominasi lama. Pergeseran ini menunjukkan bahwa tatanan dunia semakin terfragmentasi, tidak stabil, dan penuh dengan tuntutan konfrontasi yang berkelanjutan.