Special Plan: Pakar nilai semangat KAA tetap hidup, tapi tersandung implementasi

Pakar nilai semangat KAA tetap hidup, tapi tersandung implementasi

Dalam wawancara dengan ANTARA, pakar hubungan internasional Emir Chairullah menegaskan bahwa semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) tetap relevan hingga kini, meski realisasi prinsipnya sering terhambat oleh faktor-faktor politik. Menurutnya, kekuatan elite dan kebijakan rezim yang berpengaruh dalam dinamika global masih menghalangi penerapan semangat tersebut. “Semangatnya masih ada, menurut saya tidak hilang. Simbolis juga tidak. Masalahnya implementasi. Implementasi itu tergantung pimpinan atau rezim yang berkuasa,” ujarnya.

Dasasila Bandung sebagai pedoman utama

Emir menjelaskan bahwa Dasasila Bandung, yang dirumuskan dalam konferensi tersebut, tetap menjadi pedoman penting, termasuk dalam menjaga hak asasi manusia dan kedaulatan negara. Prinsip-prinsip ini lahir dari KAA 1955 di Bandung dan menjadi dasar kerja sama serta perdamaian antarnegara hingga sekarang. Ia menegaskan bahwa seluruh warga negara menginginkan kehidupan yang lebih layak dan adil, tetapi realitas politik menunjukkan bahwa kepentingan nasional sering kali menghalangi kebijakan yang sesuai dengan semangat KAA.

“Yang kemudian berbenturan itu adalah kepentingan dari masing-masing pimpinan negaranya. Pimpinan masing-masing negara itu, yang mungkin ada yang mendekatkan diri dengan Global North, karena mungkin dia dapat keuntungan secara finansial, yang kemudian tidak memedulikan warganya,” ujarnya.

Kondisi ini, lanjutnya, menciptakan pola baru dalam polarisasi global yang mirip dengan kolonialisme modern, terutama melalui eksploitasi sumber daya alam. Contoh yang diberikan adalah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, yang disebutnya berkaitan dengan kepentingan sumber daya minyak, serta konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, dinilai terkait pengendalian cadangan uranium.

Peluang Indonesia dalam membangkitkan semangat KAA

Sebagai salah satu pendiri KAA, Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk memperkuat semangat solidaritas negara-negara berkembang. “Sebenarnya peluang itu ada, selalu ada karena gimana juga Indonesia adalah inisiatornya. Termasuk inisiatornya untuk mencapai pembebasan dari kolonialisme,” tambahnya. Namun, Emir mengingatkan bahwa langkah diplomasi Indonesia saat ini harus seimbang. Kedekatan dengan negara-negara besar adalah bagian dari strategi, tetapi akan lebih efektif jika didukung oleh upaya mempererat hubungan Asia-Afrika, sesuai semangat awal konferensi.

Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung, Jawa Barat, pada 18–24 April 1955. Acara ini dihadiri 29 negara dari Asia dan Afrika, sebagian besar yang baru merdeka atau sedang berjuang membebaskan diri dari penjajahan. Hasil pentingnya adalah pengembangan prinsip bersama, yang dikenal sebagai Dasasila Bandung. Isi prinsip ini mencakup penghormatan terhadap kedaulatan negara, non-intervensi dalam urusan dalam negeri, penyelesaian konflik secara damai, serta penegakan hak asasi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *