Main Agenda: DBD Masih Menjadi Ancaman Masyarakat RI, Menkes Ungkap Biang Keroknya
DBD Masih Menjadi Ancaman Masyarakat RI, Menkes Ungkap Biang Keroknya
Jakarta, penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi tantangan serius bagi warga Indonesia, terutama di wilayah perkotaan. Meskipun jumlah pasien tidak sebanyak tuberkulosis (TBC) atau HIV, DBD tetap berpotensi mengancam nyawa jika tidak diberi perawatan segera. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa satu pasien DBD biasanya menularkan ke 5 hingga 6 orang lain.
Faktor Penyebaran DBD
Budi mengungkapkan, penyakit ini menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang sering berkembang di lingkungan kota. Berbeda dengan penyakit campak yang menular lewat droplet, DBD memerlukan interaksi langsung antara nyamuk dan manusia. Faktor lingkungan menjadi penyebab utama penyebaran DBD, menurut Menkes, kenaikan kasus erat kaitannya dengan kondisi cuaca, terutama fenomena El Nino. “Dengue itu benar-benar mengikuti pola El Nino. Begitu naik, kasus langsung meningkat,” ujarnya.
Kasus dan Kematian DBD
“Harusnya dengue itu kalau dirawat dengan baik tidak akan menjadi dengue syok. Ini soal cepat atau tidaknya penanganan,” jelasnya.
Menurut data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus DBD mencapai sekitar 150 ribu setiap tahun. Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan TBC yang mencapai 1 juta kasus, tingkat kematian DBD justru lebih tinggi daripada malaria. Budi menegaskan bahwa DBD bukanlah penyakit yang sulit diatasi. Tenaga medis di Indonesia telah terbiasa menghadapinya, namun keterlambatan dalam pengobatan tetap menjadi faktor utama penyebab kematian.
Upaya Pemerintah
Vaksin DBD sudah tersedia, tetapi pemerintah belum menjadikannya program nasional. Alasannya, prioritas utama masih diberikan pada penyakit dengan beban lebih besar, seperti TBC. Sebagai gantinya, pemerintah mendorong intervensi berbasis lingkungan, seperti pemberantasan sarang nyamuk dan peningkatan sanitasi.
Dari sisi DPR, anggota Komisi IX menekankan perlunya pendekatan pencegahan. Heru Cahyono dari Fraksi Golkar menyarankan pemerintah tidak hanya bergantung pada vaksinasi. “Pencegahan harus dimulai dari lingkungan yang bersih, pola makan sehat, serta edukasi masyarakat. Jangan hanya fokus pada vaksin,” katanya.