Waktu terbaik konsumsi magnesium untuk atasi insomnia
Waktu Terbaik Konsumsi Magnesium untuk Atasi Insomnia
Jakarta – Profesor dari New York Tech, Maria Pino, Ph.D., menjelaskan kapan waktu paling efektif untuk mengonsumsi magnesium agar bisa tidur lebih nyenyak. “Magnesium disarankan sebagai solusi insomnia karena mampu menyeimbangkan aktivitas neurotransmiter, khususnya dengan mengurangi efek glutamat dan meningkatkan GABA (asam gamma-aminobutirat),” terang Pino dalam siaran Eating Well, Sabtu (18/4) waktu setempat. GABA, sebagai neurotransmiter penting, berperan dalam mengendurkan sistem saraf dan mendorong rasa tenang. Dengan meningkatkan respons GABA, magnesium bisa memfasilitasi kondisi yang lebih rileks, sehingga memudahkan proses memulai dan mempertahankan tidur.
Manfaat Konsisten dalam Penggunaan
Magnesium juga berpengaruh pada siklus tidur-bangun alami tubuh. Pino menambahkan bahwa pada individu sehat, mineral ini dapat meningkatkan produksi melatonin, yang membantu menjaga ritme jam biologis. Dalam bentuk suplemen, waktu konsumsi sangat berpengaruh terhadap efektivitasnya dalam mendukung tujuan tertentu. Jika tujuannya adalah meningkatkan kualitas tidur, rekomendasi umum adalah mengonsumsinya sebelum tidur. Ahli gizi Whitney Stuart, M.S., RDN, menegaskan bahwa mengambil magnesium 30 hingga 60 menit sebelum berbaring untuk tidur dianggap optimal.
“Rentang waktu ini memberi tubuh kesempatan untuk menyerap dan memanfaatkan magnesium sebagai bagian dari mekanisme relaksasi,” ujar Stuart.
Penelitian Menunjukkan Manfaat
Stuart juga menyebutkan bahwa magnesium biasanya diminum sekali sehari, terutama di malam hari atau dekat waktu tidur. Meskipun tidak ada bukti langsung bahwa malam hari lebih unggul dibanding waktu lain, penggunaan konsisten selama beberapa minggu bisa memperkuat efeknya. “Mengonsumsi magnesium pada waktu yang sama setiap hari memperjelas sinyal bahwa masa tidur telah tiba, sehingga meningkatkan hasilnya,” tambahnya.
Perhatian dalam Penggunaan
Meskipun magnesium terdapat alami dalam sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian, bentuk suplemen yang lebih padat memerlukan kehati-hatian. Pino menekankan bahwa magnesium secara alami merelaksasi pembuluh darah, yang bisa memengaruhi fungsi kardiovaskular. “Magnesium mungkin menurunkan tekanan darah, sehingga harus diawasi pada pasien yang sedang mengonsumsi obat antihipertensi,” katanya.
“Efek ini bisa menyebabkan tekanan darah terlalu rendah, yang berpotensi menimbulkan gejala seperti pusing atau rasa ringan di kepala,” tambah Pino.
Stuart juga mengingatkan bahwa magnesium bisa mengganggu penyerapan obat-obatan tertentu. “Magnesium mengurangi efektivitas antibiotik tetrasiklin dan fluoroquinolon, serta obat pengganti hormon tiroid,” jelasnya. Untuk menghindari interaksi, dianjurkan menjaga jarak beberapa jam antara pemberian magnesium dan obat. Sebelum memulai suplemen, konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk memastikan kecocokan penggunaan dan cara mengonsumsinya dengan aman.