What Happened During: Menekraf tekankan pekerja kreatif sikapi AI dengan bijak
Menekraf Tekankan Pekerja Kreatif Sikapi AI dengan Bijak
Jakarta – Dalam acara Bekup Global Scale Up 2026 di Jakarta, Selasa, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara etis oleh para pekerja kreatif. Menurutnya, AI bukan digunakan untuk menggantikan manusia, melainkan memperkuat hasil karya kreatif mereka. “Kami dari pemerintah melihat bahwa AI itu bukan untuk menggantikan manusia tapi memperkuat hasil kreativitas mereka. Cuman memang kita harus ingat adalah etikanya dalam menggunakan AI jangan sampai juga hasil karya yang sudah dibuat susah-susah dengan menggunakan AI buat dibajak secara tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
AI Sebagai Partner Kerja
Menurut Menekraf, AI bisa menjadi mitra kerja bagi pekerja kreatif untuk menghasilkan produk kreatif yang lebih berkualitas. Ia menambahkan, pertumbuhan teknologi AI yang pesat memerlukan perhatian bersama dan sosialisasi etika penggunaannya terus dilakukan. “Memang ini perkembangannya sangat cepat. Kalau dulu sekian puluh tahun yang lalu ketika internet itu muncul, dari pertama itu kan mungkin butuh waktu sekian belas tahun sehingga seperti internet hari ini. Tapi kalau AI ini kan hampir setiap saat itu perkembangannya. Jadi memang ini sesuatu yang harus menjadi atensi kita bersama,” katanya.
Penguatan Kreativitas dengan Teknologi
Menekraf menyatakan bahwa hadirnya AI bisa melengkapi proses kreatif para pekerja kreatif Indonesia. Teknologi ini dapat diadopsi dari luar negeri, namun tetap relevan dan tidak menghilangkan tradisi yang melekat di masyarakat. Ia mengingatkan bahwa AI seharusnya tidak dijadikan pengganti para kreator, melainkan alat yang membantu menghasilkan karya kreatif dengan tanggung jawab.
Koordinasi untuk Regulasi AI
Kemenekraf juga berencana terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian, salah satunya Kementerian Komunikasi dan Digital, untuk menyusun aturan terbaik dalam penerapan AI di Indonesia. Tujuannya adalah memastikan teknologi ini bisa digunakan secara bijak, menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai-nilai tradisional.
“Memang ini perkembangannya sangat cepat. Kalau dulu sekian puluh tahun yang lalu ketika internet itu muncul, dari pertama itu kan mungkin butuh waktu sekian belas tahun sehingga seperti internet hari ini. Tapi kalau AI ini kan hampir setiap saat itu perkembangannya. Jadi memang ini sesuatu yang harus menjadi atensi kita bersama,” katanya.