Meeting Results: Breaking! Rupiah Tertekan, Dolar AS Sudah Tembus Rp17.210

Breaking! Rupiah Tertekan, Dolar AS Sudah Tembus Rp17.210

Jakarta, Pasar valuta asing hari ini mencatatkan kenaikan terbatas bagi rupiah. Menurut data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.210 per dolar AS, yang menjadi titik terendah intraday sepanjang masa. Ini mengisyaratkan bahwa rupiah kembali memasuki zona psikologis baru, dengan tekanan dari berbagai faktor eksternal dan internal.

Pada hari sebelumnya, Rabu (22/4/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.170/US$ setelah mengalami penurunan 0,18%. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada 09.00 WIB tetap stabil di 98,591, setelah kemarin menguat 0,20% ke 98,590. Pergerakan rupiah terkini dipengaruhi oleh kenaikan dolar AS dalam dua hari terakhir, yang menunjukkan preferensi pelaku pasar terhadap aset safe haven.

Eksternal: Ketidakpastian Global Memicu Pelemahan

Gerakan dolar AS yang sedang naik menunjukkan bahwa pasar cemas terhadap ketegangan antara AS dan Iran, yang belum mereda. Meski Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu Teheran merumuskan proposal perang, Iran justru menyita dua kapal di Selat Hormuz, memperkuat ketidakstabilan sektor energi global.

Domestik: BI Terus Jaga Stabilitas Rupiah

Dari sisi dalam negeri, Bank Indonesia (BI) tetap memantau kebijakan untuk mengendalikan pergerakan rupiah. Salah satunya adalah penurunan ambang batas pembelian valuta asing tunai, khususnya dolar AS, dari US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan. Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono menyatakan bahwa kebijakan ini mulai menunjukkan hasil:

“Sejak 17 April 2026, rata-rata transaksi spot nasabah turun dari US$78 juta menjadi US$60 juta per hari,” ujarnya dalam pengumuman Rapat Dewan Gubernur BI.

Selain itu, BI juga meningkatkan ambang batas jual Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dan swap menjadi US$10 juta per transaksi, dari sebelumnya US$5 juta. Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi kebijakan ini akan terus memperkuat nilai tukar rupiah:

“Kami yakin kebijakan ini akan semakin efektif, karena transaksi pembelian spot kini harus didasari underlyingnya. Dari 89,2% sebelumnya, proporsi transaksi dengan underlying mencapai 93,5%,” kata Perry dalam pengumuman RDG BI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *