Facing Challenges: Trump “Uji Nyali”, Bawa-Bawa Yesus dan Paus di Perang Iran

Trump “Uji Nyali”, Bawa-Bawa Yesus dan Paus di Perang Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyulut perdebatan setelah membagikan foto yang menyerupai Yesus, yang menimbulkan kritik dari berbagai pihak, termasuk kalangan Kristen konservatif. Polemik ini muncul di tengah persaingan politiknya dengan Paus Leo XIV. Unggahan berbasis kecerdasan buatan (AI) di Truth Social sebelumnya memperlihatkan Trump seolah-olah memiliki kemampuan penyembuhan, yang langsung memicu reaksi tajam.

“(Foto itu) menghujat,” kata Douglas Wilson, tokoh nasionalis Kristen, seperti dikutip Guardian, Senin (20/4/2026).

Sejumlah aktivis Kristen, seperti Sean Feucht, menilai konten tersebut tidak dapat dibenarkan. “Ini harus segera dihapus. Tidak ada konteks yang dapat diterima,” tulisnya di media sosial. Meski unggahan tersebut akhirnya dihapus, Trump kembali memperhatikan kontroversi dengan membagikan gambar lain yang menampilkan sosok menyerupai Yesus memeluk dirinya.

“Ada aspek performatif, di mana sejumlah pemimpin Kristen merasa perlu menyatakan ketidaksetujuan, tanpa benar-benar menarik dukungan,” katanya.

Analis mengingatkan langkah Trump bisa menjadi bumerang. Kristin Kobes Du Mez, profesor dari Universitas Calvin, menyatakan sebagian pendukung Kristen mulai melihat ini sebagai batas yang terlampaui. “Dia tampaknya telah melewati batas bagi sebagian pendukung Kristennya,” ujarnya. Ia menambahkan, kelompok pendukung Trump biasanya toleran terhadap berbagai kontroversi, tetapi unggahan AI dianggap terlalu jelas.

Beberapa tokoh yang awalnya mengkritik kini mulai melunak. Sean Feucht, misalnya, kembali membagikan penjelasan Trump tanpa kritik. Aktivis Kristen lainnya, Riley Gaines, awalnya menyebut kurangnya kerendahan hati Trump, namun akhirnya menyatakan dukungan.

Pendiri Public Religion Research Institute (PRRI), Robert Jones, menilai basis utama Trump di kalangan evangelis kulit putih kemungkinan tetap kuat. “Mereka lebih konservatif dan sangat terpengaruh oleh isu seperti imigrasi dan identitas Amerika Kristen kulit putih,” ujarnya. Dalam analisis The Guardian, konflik Trump dengan Paus Leo XIV diperkirakan tidak banyak menggerus dukungan dari kelompok evangelis.

Dampak yang lebih signifikan mungkin datang dari pemilih Katolik, terutama di negara bagian kunci. Data PRRI menunjukkan umat Katolik kulit putih memiliki pengaruh besar di wilayah seperti Pennsylvania, Wisconsin, dan Michigan, yang sering menjadi penentu hasil pemilu. Jika dukungan dari kelompok ini melemah, dampaknya bisa krusial bagi Partai Republik.

“Jika kehilangan 10 poin dari pemilih Katolik kulit putih, itu bisa menjadi akhir dari segalanya di banyak pemilihan paruh waktu,” kata Jones.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *