Key Discussion: Waspada RI Krisis Sulfur, Ini Industri yang Bisa Terganggu

Waspadai Krisis Sulfur RI, Industri yang Rentan Terkena Dampak

Peran Sulfur dalam Proses Hilirisasi Nikel

Ketergantungan Indonesia pada bahan baku sulfur dari luar negeri semakin memicu kekhawatiran mengenai kelangsungan industri pengolahan nikel berbasis teknologi hidrometalurgi. Hal ini terutama berdampak pada pabrik yang menggunakan metode High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk menghasilkan material Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang siap dipasarkan sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik.

“Produksi MHP-battery grade nickel sangat bergantung pada asam sulfat, yang berasal dari sulfur,” kata Arif Perdana Kusumah, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), saat diwawancara CNBC Indonesia pada Kamis (23/4/2026).

Ketersediaan sulfur menjadi kunci dalam proses pelindian, yang mendahului pemurnian nikel. Dalam setiap produksi 1 ton nikel, industri memerlukan sekitar 10 hingga 12 ton sulfur. Namun, ketersediaan bahan ini tidak stabil, terutama karena ketergantungan besar pada impor dari Timur Tengah.

Krisis Pasokan Sulfur dan Risiko Global

Harga sulfur terus melonjak, mencapai kisaran US$960 hingga US$1.300 per ton pada April 2026. Angka ini meningkat drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika harga berkisar sekitar US$275 per ton. Arif mengingatkan bahwa krisis pasokan sulfur berpotensi mengganggu rantai produksi bahan baku industri hilirisasi nikel.

“Indonesia sebagai produsen utama MHP dari proyek HPAL sangat bergantung pada sulfur yang diimpor dari Timur Tengah. Jika distribusi terganggu, pasokan bahan baku bisa terhambat hingga terputus,” ujarnya.

Langkah Pemerintah untuk Mengantisipasi Risiko

Setelah pertemuan antara Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, pemerintah mulai mewaspadai ancaman terhadap rantai pasok sulfur. Luhut menyebut krisis energi dan komoditas strategis sebagai faktor yang bisa memperparah situasi.

“Kami mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga energi jika konflik global berlangsung lebih lama dari perkiraan. Sulfur juga menjadi komoditas yang perlu dipantau, karena berperan penting dalam hilirisasi nikel dan pengembangan baterai listrik,” terang Luhut, dikutip Kamis (23/4/2026).

Pemerintah sedang menyusun skenario untuk menghadapi keterbatasan pasokan global, termasuk risiko penutupan Selat Hormuz yang bisa memengaruhi alur logistik sulfur. Kesiapan ini menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas sektor industri hilirisasi nikel nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *