Key Strategy: Perang Tetangga RI Panas! Militer Siapkan Drone-Kirim Kapal Perang

Perang Tetangga RI Panas! Militer Siapkan Drone-Kirim Kapal Perang

Jakarta – Tindakan militer Myanmar dikabarkan memperkuat kehadiran kapal-kapal laut di perairan lepas pantai Negara Bagian Rakhine Selatan. Upaya ini ditujukan pada wilayah Kotapraja Taungup, Ramree, dan Thandwe, yang saat ini dikuasai oleh Tentara Etnis Arakan Army (AA). Selain itu, tentara juga terus melakukan serangan bom ke wilayah utara secara intens.

“Kehadiran angkatan laut telah meningkat sejak sebelum Thingyan. Sebelumnya, mereka berada sekitar 20 hingga 30 mil (sekitar 30-50 km) dari pantai, tetapi sekarang mereka jauh lebih dekat. Drone juga dikerahkan setiap hari, sehingga orang-orang takut dan menghindari area tersebut,”

ujar warga Ramree.

Kehadiran armada perang Myanmar dilaporkan semakin sering di sekitar muara sungai di Kotapraja Taungup. Para sumber mengungkapkan bahwa junta telah meningkatkan pengawasan menggunakan pesawat nirawak, sementara kapal nelayan lokal sering kali ditahan dan ditembaki. Ini mencerminkan persiapan untuk operasi amfibi.

Seorang warga Thandwe menyatakan bahwa jumlah kapal yang beroperasi di wilayahnya kini mencapai tiga hingga empat, dibandingkan hanya dua sebelumnya. “Mereka bergerak mendekat ke pantai lalu menarik diri berulang kali. Senjata berat juga ditembakkan hampir setiap hari,” terang warga setempat.

Analisis Tentang Kekuatan Junta

Menurut seorang analis militer dari Kyaukphyu, yang dekat dengan AA, junta kemungkinan besar tidak mampu melakukan serangan darat besar-besaran untuk merebut kembali kota-kota di Rakhine. “Tidak akan mudah untuk merebutnya kembali. Paling-paling, mereka mungkin akan menggunakan serangan udara dan penghancuran target sipil,” jelas analis tersebut.

Upaya Serangan Udara

Dalam beberapa hari terakhir, rezim militer Myanmar juga meningkatkan serangan udara terhadap area yang dikuasai AA. Pada hari Minggu pagi, serangan di Ponnagyun menghancurkan pusat pelatihan kejuruan pemuda etnis dan stasiun pasokan listrik, sementara melukai warga sipil. Di hari yang sama, bom jatuh di desa di Ponnagyun, menewaskan seorang penduduk.

Kapal-kapal angkatan laut terus memantau aktivitas AA di perairan, sementara serangan udara dilakukan di Kotapraja Kyauktaw, Ponnagyun, dan Mrauk-U. Pesawat tempur juga menargetkan biara dan rumah warga di Mrauk-U, merusak bangunan keagamaan dan melukai 13 orang, termasuk biksu.

Keberhasilan AA dalam mengamankan wilayah luas, termasuk area timur Pegunungan Arakan di Ayeyarwady, Bago, dan Magwe, membuat manuver darat junta semakin terbatas. Sebagai akibatnya, rezim memutuskan untuk mengalihkan tekanan ke arah laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *