Key Strategy: Perundingan AS-Iran Buntu Terus, Ternyata Kuncinya Dipegang China
Perundingan AS-Iran Buntu Terus, Ternyata Kuncinya Dipegang China
Di tengah upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang masih belum menemui titik temu, China semakin menguatkan perannya sebagai pihak penting dalam proses negosiasi. Situasi gencatan senjata yang sekarang berlangsung tetap rapuh dan penuh ketidakpastian, namun Beijing dianggap sebagai faktor penentu dalam memperkuat ketenangan tersebut.
Dukungan Ekonomi Tiongkok sebagai Faktor Penentu
Faktor utama yang mendorong intervensi Tiongkok adalah kepentingan ekonomi. Negeri Tirai Bambu memiliki ketergantungan besar terhadap pasokan energi dari wilayah Teluk, termasuk Iran. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi menghambat pasokan energi global, yang secara langsung memengaruhi stabilitas ekonomi China. Kepentingan ini semakin kritis setelah ketegangan terbaru menunjukkan risiko gangguan tersebut menjadi nyata.
Analisis Diplomasi Tiongkok dan Keterlibatan IRGC
Beijing juga memperlihatkan kemampuan diplomasi dalam membantu memperpanjang masa gencatan senjata, memberi waktu bagi Iran menyusun rencana bersama. Analis dari Planet Nine, Tuvia Gering, mengatakan bahwa kedekatan Tiongkok dengan struktur kekuasaan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menjadi keunggulan strategis. “Dengan tokoh-tokoh yang berhubungan erat dengan IRGC, Tiongkok mungkin menilai organisasi tersebut tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Iran,” ujarnya. Ia menambahkan, hubungan ekonomi melalui pembelian minyak memberi China keuntungan tidak langsung dalam mendukung kestabilan Iran.
“Kepentingan utama saat ini adalah mencegah konflik kembali pecah serta mempertahankan stabilitas kawasan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, sebagaimana dilaporkan Newsweek, Kamis (23/4/2026).
Langkah Tegas dari Pemimpin Tiongkok
Presiden China Xi Jinping mulai mengirim sinyal lebih kuat untuk menjaga kawasan tetap stabil dan mengusahakan pembukaan kembali jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz. Sementara itu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan bahwa negaranya akan terus aktif meredakan konflik. “Tiongkok menjaga sikap objektif dan adil, serta berupaya mendorong gencatan senjata dan menyelesaikan masalah dengan cepat,” ujarnya.