Latest Program: Ramai-Ramai Tokoh Israel Serang Netanyahu, Sebut Bajak Negara Sendiri

Rakyat Israel Merasa Pemimpinnya “Bajak” Negara

Di tengah ketegangan politik yang masih memanas, sejumlah tokoh Israel mengecam kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka, yang pernah menduduki posisi strategis dalam militer dan pemerintahan, menyatakan bahwa negara ini justru terjebak dalam kesulitan akibat keputusan pemerintah saat ini.

Para Mantan Pejabat Serukan Perubahan Strategi

Dua mantan kepala staf militer, Dan Halutz dan Moshe Ya’alon, menulis di media Haaretz bahwa Israel tidak lagi berada di jalur awal pendiriannya. Mereka menyebut kondisi kini sebagai bentuk “penjajahan rezim” yang menganggap sumber daya negara sebagai milik pribadi. “Saat ini, Israel seperti diambil alih oleh kelompok yang menjadikan negara ini sebagai milik Netanyahu, Sara, dan Miri Regev,” tulis mereka dalam sebuah artikel.

“Menjelang perayaan ke-78 kemerdekaan Israel, kami terpaksa menyatakan dengan rasa sakit: negara ini dibajak oleh pihak yang meremehkan kekuasaan rakyat,”

Kedua tokoh ini juga mengkritik ketidakmampuan pemerintah menghubungkan kebijakan dengan kenyataan. Mereka menilai tindakan Israel terkesan egois, mengabaikan kebutuhan masyarakat.

Ehud Barak: Tujuan Perang Belum Tercapai

Mantan Perdana Menteri Ehud Barak, dalam tulisan serupa, mengakui tekanan militer terhadap musuh, tetapi menegaskan bahwa tujuan perang belum tercapai. “Musuh mengalami luka serius, namun masih bertahan di wilayahnya masing-masing,” tulisnya.

“Tidak ada kesuksesan strategis dalam operasi terhadap Iran. Teheran bertahan meski dihadapkan serangan bersama Israel dan AS,”

Barak menilai ini menunjukkan kegagalan serius dalam koordinasi politik dan militer. Ia menambahkan bahwa Israel kini bergantung sepenuhnya pada pendirian Amerika Serikat.

Operasi Militer dan Dampaknya

Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon mengakibatkan ribuan korban, termasuk 2.294 orang tewas dan 7.544 cedera. Jutaan warga pun terpaksa mengungsi. Namun, tekanan dari Trump memaksa gencatan senjata 10 hari. Pada sisi lain, konflik dengan Iran terus berlangsung sejak 28 Februari, mengorbankan lebih dari 3.000 orang. Gencatan senjata dua minggu terakhir diumumkan setelah mediasi oleh Pakistan.

Meski demikian, kritik terus mengalir. Tokoh-tokoh ini menilai bahwa terlepas dari kekuatan militer, kegagalan politik mengakibatkan Israel justru menjadi lebih rentan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *