Main Agenda: Alasan Hujan Masih Turun Meski Musim Kemarau, Ini Peringatan Baru BMKG

Alasan Hujan Masih Turun Meski Musim Kemarau, Ini Peringatan Baru BMKG

Fenomena El Niño dan Dampaknya

BMKG telah memperingatkan berkali-kali mengenai kemungkinan munculnya fenomena El Niño di Indonesia. Fenomena iklim ini diperkirakan memperparah kondisi kemarau 2026, membuatnya lebih kering dan berlangsung lebih lama. El Niño diperkirakan aktif pada semester II, saat musim kemarau berlangsung. Peluang terjadinya El Niño lemah hingga moderat mencapai 70-90%.

Wilayah yang Terdampak Kemarau

BMKG mencatat, saat ini sebanyak 73 Zona Musim (ZOM) atau 10,4% dari total wilayah Indonesia dalam kondisi musim kemarau. Wilayah yang terkena mencakup sebagian Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kep. Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Selatan, Tenggara, serta Maluku. Peringatan dini kekeringan meteorologis diberikan untuk beberapa kabupaten di Aceh, dengan klasifikasi Waspada.

Penyebab Hujan di Tengah Musim Kemarau

Berdasarkan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II April 2026, BMKG mengingatkan agar waspada terhadap hujan tidak merata selama transisi musim. Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat terjadi di sejumlah wilayah pada 16-19 April 2026. Fenomena seperti gelombang Rossby Ekuatorial dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) menjadi pemicu pembentukan awan hujan. Bibit siklon tropis 92S di Samudra Hindia serta sirkulasi siklonik di perairan Aceh, Kalimantan Barat, Laut Banda, dan utara Papua juga berkontribusi.

“Musim Kemarau dan El Niño itu dua fenomena yang terpisah. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Niño-nya sedang aktif. Kondisi inilah yang terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini. BMKG akan terus memantau agar prediksi ke depannya lebih akurat,” terang Teuku Faisal Fathani.

Meski intensitas El Niño tidak sekuat beberapa tahun sebelumnya, dampaknya tetap perlu diwaspadai. Faisal menekankan bahwa kemarau tidak berarti tanpa hujan sama sekali, melainkan kondisi ketika curah hujan di bawah ambang batas klimatologis.

Prediksi Hujan untuk Masa Depan

BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi hingga 27 April 2026. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berada di fase 8, meski filter spasialnya melewati Aceh. Gelombang Kelvin diharapkan aktif di pulau-pulau seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku Selatan, dan Papua. Sementara gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi memengaruhi Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, dan Papua Selatan.

Peringatan Hujan Tinggi dan Klasifikasi Wilayah

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tentang curah hujan tinggi di Dasarian III April 2026. Wilayah yang diingatkan mencakup beberapa kabupaten di Aceh, Sumatra Utara, Barat, Selatan, Jawa Barat, Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Selatan, serta Papua Selatan, dengan klasifikasi Waspada. Wilayah Aceh, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Tengah masuk kategori Siaga. Sementara itu, tidak ada peringatan Awas untuk saat ini.

Kondisi pemanasan permukaan yang cukup hangat dan kelembapan udara yang basah di lapisan bawah meningkatkan peluang awan konvektif terbentuk, yang bisa menghasilkan hujan. BMKG terus memantau dinamika atmosfer untuk memastikan prediksi yang lebih tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *