Meeting Results: Dunia Makin Kacau! Konflik Baru Mengintai, Bisa Begini Jadinya
Dunia Makin Kacau! Konflik Baru Mengintai, Bisa Begini Jadinya
Jakarta, Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran masih berlangsung, meski intensitasnya mulai berkurang. Dampak konflik ini kini terasa luas, tidak hanya di wilayah Timur Tengah, tetapi juga mengubah struktur kekuasaan global. Menurut ilmuwan politik Georgy Asatryan, pertarungan ini menjadi titik balik yang mempercepat pergeseran dunia dari sistem kekuasaan satu kutub ke sistem yang lebih kompleks.
“Perlawanan Teheran mempercepat pergeseran yang tak terhindarkan menuju multipolaritas,” tulis Asatryan, seperti dikutip RT pada Kamis (16/4/2026). Ia menilai tindakan militer AS justru memperkuat upaya Iran untuk mengubah dinamika perang, yang sebelumnya dianggap akan berakhir cepat.
Iran menunjukkan ketahanan signifikan meski mengalami kerugian besar, termasuk kehilangan tokoh-tokoh penting. Dengan kemampuan adaptasi, Teheran berhasil mengarahkan konflik sesuai kepentingan mereka. “Teheran tidak menyerah. Mereka menyerap pukulan awal dan mulai membentuk konflik sesuai kepentingan mereka,” jelas Asatryan.
Blokade Selat Hormuz, jalur distribusi energi kritis, menjadi salah satu dampak paling berpengaruh. Tindakan tersebut memaksa negara-negara besar menghadapi risiko pasokan terganggu dan kenaikan harga energi. India, misalnya, segera mengambil langkah darurat untuk mengamankan pasokan energi nasional.
“Hasilnya adalah dunia yang lebih bergejolak, di mana kekuatan militer menjadi instrumen kebijakan rutin,” kata Asatryan. Ia juga menyoroti peluruhan konsep pengekangan yang sebelumnya menjadi fondasi stabilitas global, digantikan oleh rasa impunitas yang meningkat di kalangan negara-negara.
Ketegangan kini merambat ke berbagai wilayah, termasuk perbatasan Afghanistan-Pakistan yang melihat peningkatan bentrokan lintas batas. Rivalitas antara India dan Pakistan kembali memanas, dengan potensi eskalasi konflik yang bisa memengaruhi skala internasional. Dengan kedua negara memiliki senjata nuklir, konflik terbatas di kawasan ini pun bisa menghasilkan dampak global.
Di luar itu, wilayah Asia Selatan hingga Karibia menunjukkan tanda-tanda ketegangan baru. Fenomena ini dianggap bagian dari pola luas, di mana melemahnya aturan global memberi ruang untuk pemanasan konflik. Asatryan menyebut dunia kini bergerak menuju fragmentasi, dengan aliansi semakin rapuh dan kebijakan kekuatan militer menjadi instrumen utama.
“Blokade Hormuz, ketahanan Iran, serta kegagalan AS mencapai kemenangan cepat menjadi indikator perubahan keseimbangan kekuatan global,” kata ilmuwan tersebut. Ia memperingatkan bahwa konflik ini mengubah paradigma, membuat negara menengah bisa menantang kekuatan besar dan memasukkan mereka ke dalam kebuntuan strategis.
Menurut Asatryan, pelajaran terberat dari konflik ini adalah munculnya keyakinan bahwa kekuatan militer dapat digunakan tanpa konsekuensi besar. Ketika perspektif ini menyebar, risiko konflik baru menjadi lebih tinggi. “Konflik berikutnya bukan lagi soal apakah akan terjadi, tetapi di mana,” pungkasnya.