New Policy: Breaking: Trump Klaim AS-Iran “Close to Deal”, Teheran Lepas Nuklir
Breaking: Trump Klaim AS-Iran “Close to Deal”, Teheran Lepas Nuklir
Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintah AS dan Iran sedang mendekati kesepakatan penting terkait konflik serta program nuklir negara itu. Ia menyebutkan Iran setuju mengembalikan uranium yang telah diperkaya sebagai bagian dari kesepakatan. Proses pengayaan uranium hingga 90% berpotensi diubah menjadi senjata nuklir, menurut Trump.
“Mereka telah setuju untuk mengembalikan uranium tersebut kepada kita,” kata Trump kepada wartawan, seperti dilaporkan AFP, Jumat (17/4/2026).
Namun, belum ada konfirmasi resmi dari Teheran mengenai klaim tersebut. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kesepakatan masih dalam tahap negosiasi, belum final. Fokus utama dalam perundingan adalah durasi penghentian pengayaan uranium, di mana AS menuntut penghentian jangka panjang sementara Iran hanya menawarkan pembatasan sementara.
Ketegangan geopolitik ini memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 3,24% ke level US$98,01 per barel, atau sekitar Rp1,67 juta per barel, berdasarkan kurs Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Pemerintahan Trump tetap menekan Iran dengan ancaman militer dan sanksi ekonomi jika negosiasi gagal.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance memimpin perundingan di Islamabad, Pakistan, yang berakhir tanpa hasil. Meski begitu, komunikasi antara kedua negara masih terus berlangsung untuk mengatasi perbedaan. Salah satu isu utama adalah nasib cadangan uranium yang diperkaya. Iran disebut membuka kemungkinan mengirim sebagian material tersebut ke negara ketiga sebagai bagian dari kompromi.
Trump bahkan menyatakan bahwa ia siap datang langsung jika kesepakatan berhasil diselesaikan. Pihak Iran tetap menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk tujuan damai, bukan pengembangan senjata. Di sisi lain, mediasi Pakistan masih menjadi sarana utama untuk mendorong langkah diplomatik lebih lanjut.