Special Plan: Krisis Energi Hebat Guncang Negara Ini, Kota Gelap-Warga “Terpanggang”

Krisis Energi Hebat Guncang Negara Ini, Kota Gelap-Warga “Terpanggang”

Krisis listrik yang luar biasa sedang mengguncang Bangladesh, terutama di tengah gelombang panas yang membara yang melanda wilayah tersebut. Pemadaman listrik massal menjadi keharusan karena kelangkaan bahan bakar yang dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat perang di Timur Tengah. Suhu di sebagian besar daerah mencapai 40°C, memperparah kesulitan warga dalam menghadapi kondisi ini.

Menurut laporan AFP, krisis ini menyebabkan penderitaan yang semakin parah, terutama karena kombinasi antara panas ekstrem dan penghentian aliran listrik. Mashuka Yasmin Mishu, seorang ibu dua anak dari distrik Pabna di barat laut, mengungkapkan kesulitan keluarganya dalam beristirahat.

“Anak-anak saya dan saya tidak bisa tidur tadi malam karena seringnya pemadaman listrik. Cuacanya sangat panas,” kata Mishu Jumat, 24/04/2026.

Mishu menambahkan bahwa meskipun pemadaman listrik bukan hal baru, kondisi tahun ini menjadi yang terburuk yang pernah ia alami. Ia merasa sangat tertekan karena keluarga hanya bisa menikmati aliran listrik selama dua jam terus-menerus.

Krisis energi ini berakar pada ketergantungan Bangladesh terhadap impor bahan bakar. Negara Asia Selatan tersebut mengimpor 95% kebutuhan minyak dan gasnya, sebagian besar dari Timur Tengah. Pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. Seorang pejabat senior dari Kementerian Energi, Umme Rehana, menjelaskan bahwa infrastruktur pembangkit listrik sudah memadai, tetapi terhambat karena kekurangan bahan baku.

“Kami memiliki kapasitas pembangkit yang besar,” ujarnya. “Tetapi karena kekurangan gas dan bahan bakar, kami tidak dapat memanfaatkannya,” tambah Rehana.

Menurut Menteri Muda Urusan Listrik, Anindya Islam Amit, permintaan listrik nasional mencapai 16.000 megawatt, sementara pembangkit yang beroperasi hanya mampu menghasilkan 14.126 megawatt. Kesenjangan ini memaksa pemerintah menerapkan kebijakan pemutusan beban listrik.

“Pemadaman listrik secara terbatas diperlukan,” tegas Amit di hadapan para anggota dewan. “Untuk menjaga keadilan, kami telah memutuskan untuk memperkenalkan pemadaman listrik terbatas dan eksperimental sebesar 110 megawatt di Dhaka. Tidak dapat diterima jika penduduk kota menikmati kenyamanan sementara para petani menderita,” jelas Amit.

Selain gangguan listrik, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) juga terjadi sepanjang minggu ini. Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud berupaya menenangkan publik dengan menyebut fenomena tersebut dipicu oleh kepanikan warga.

“Negara memiliki cadangan bahan bakar yang cukup,” pungkas Mahmud sambil menyalahkan aksi panic buying sebagai penyebab utama antrean panjang di lapangan,”

katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *